Latest Posts

Minggu, 18 November 2012

Mendahulukan Teman


Al-Waqidi menuturkan bahwa ia mempunyai dua orang teman, satu di antara keduanya adalah keturunan Hasyim. Mereka telah menjadi ibarat satu jiwa. Suatu saat kesulitan hidup dialami oleh keluarga Al-Waqidi dan hari raya Idul Fitri tiba. Maka yang muncul dalam pikirannya adalah anak-anaknya yang masih kecil karena melihat anak-anak tetangga memakai pakaian baru dan tampak gembira. Sedang al-Waqidi sendiri dan istrinya dapat menjalani hidup dalam kesulitan meskipun dalam suasana hari raya.

Dalam keadaan seperti itu, terbelik dalam hatinya ingin menulis surat kepada sahabat karibnya yang keturunan Hasyim itu. Ia pun kemudian menulis surat dengan menceritakan keadaan yang sedang ia alami. Selang beberapa waktu kemudian, sahabatnya itu mengirim bungkusan berisi uang seribu dirham. Namun tidak lama kemudian sahabat karib satunya lagi ternyata datang dan mengeluhkan kesulitan hidup yang sama kepada al-Waqidi. Oleh sebab itu, karena tidak ingin sahabatnya mengalami kesusahan, uang itu kemudian diberikan kepadanya saat itu juga. Al-Waqidi kemudian berdiam dir dalam masjid karena malu dengan istrinya. Setelah pulang ke rumah, ia menceritakan perihal uang dari awal hingga akhir. Istrinya yang dikira akan kecewa dengan sikapnya itu ternyata sebaliknya justru memuji atas keluhuran jiwanya itu.

Dalam keadaan seperti itu, sahabat dekatnya yang keturunan Hasyim itu datang lagi dengan membawa bungkusan persis seperti yang diberikan kepada Al-Waqidi sebelumnya, seraya berkata: “Ketahuilah bahwa ketika engkau menyampaikan kesulitan hidup kepadaku, maka kemudian aku berikan kepadamu uang ini. Sementara hanya inilah uang yang aku miliki. Karena aku ingin berbagi rasa dengan sahabat kita maka aku menceritakan keadaan hidup yang sedang aku alami. Tidak lama kemudian sahabat kita itu mengirim bungkusan uang ini tanpa memberi tahu darimana uang ini ia dapatkan!” Kemudian uang itu dibagi untuk tiga orang bersahabat karib itu.

Ketika Khalifah Al-Ma’mun mendengar peristiwa itu Al-Waqidi dipanggil ke istananya. Karena tidak mengetahui alasan mengapa ia dipanggil, hati Al-Waqidi dipenuhi rasa penasaran yang bercampur takut selama dalam perjalanan menuju ke istana Khalifah sehingga ia tidak merasakan jarak perjalanan. Setelah meminta agar Al-WAqidi menceritakan kisahnya, Khalifah Al-Ma’mun memberi perintah agar diberi hadiah tujuh ribu dinar, masing-masing dari tiga orang bersahabat itu dua ribu dinar sementara untuk istri Al-Waqidi seribu dinar.

Sumber :
1001 Kisah Teladan oleh Hani Al-Hajj
Continue Reading...

Minggu, 11 November 2012

Seorang Perempuan Kata-katanya Al-Qur’an


Abdullah bin al-Mubarak menuturkan bahwa ketika pergi haji ke Baitulah al-Haram dan berziarah ke masjid Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam di Madinah, ia berjumpa dengan seorang perempuan tua memakai kerudung wol.

Ibnu Mubarak berkata, “Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.”

Perempuan tua itu menjawab, “Salam sejahtera, sebagai ucapan selamat dari Rabb yang Maha Penyanyang.” (QS. Yaasin : 58)

Ibnu Mubarak berkata, “Semoga Allah merahmati engkau. Apa yang engkau lakukan di tempat ini?”

Perempuan tua itu menjawab, “Barang siapa yang Allah sesatkan maka tidak ada baginya petunjuk jalan.” (QS. Al-A’raf : 186). Mendengar jawabannya, Ibnu Mubarak paham bahwa ia tersesat di jalan. Lalu ia pun bertanya, “Kemana engkau hendak pergi?”

Perempuan tua itu menjawab, “Maha Suci Allah yang telah mengisra’kan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa.” (QS. Al-Isra’ : 1). Ia pun tahu bahwa perempuan ini telah selesai mengerjakan haji dan ingin kembali ke Baitul Maqdis (Palestina).

Ibnu Mubarak berkata, “Sejak berapa lama engkau di tempat ini?”

Perempuan tua itu menjawab, “Tiga malam berturut-turut.” (QS. Maryam : 10)

Ibnu Mubarak berkata, “Aku tidak melihat makanan bersamamu, lalu engkau makan apa?”

Perempuan tua itu menjawab, “Allah yang memberiku makan dan minum.” (QS. Asy-Syu’ara : 79)

Ibnu Mubarak berkata, “Sekarang bukan bulan Ramadhan!”

Perempuan tua itu menjawab, “Dan barang siapa mengerjakan kebajikan dengan kerelaan hati, maka, sesungguhnya Allah Maha Memberi pahala dan Maha mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 158)

Ibnu Mubarak berkata, “Kita diperbolehkan tidak puasa ketika dalam perjalanan.”

Perempuan tua itu menjawab, “Berpuasa itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 184)

Ibnu Mubarak berkata, “Mana air wudhumu?”

Perempuan tua itu menjawab, “Lalu jika tidak menemukan air maka bertayamumlah dengan debu yang baik.” (QS. An-Nisa : 43)

Ibnu Mubarak berkata, “Mengapa engkau tidak berbicara seperti bicaraku?”

Perempuan tua itu menjawab, “Tidakkah ada satu ucapan pun yang diucapkan kecuali ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf : 18)

Ibnu Mubarak berkata, “Manusia apa sebenarnya engkau ini?”

Perempuan tua itu menjawab, “Janganlah mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya itu akan dimintai tanggung jawab.” (QS. Al-Isra’ : 36)

Ibnu Mubarak berkata, “Aku telah melakukan kesalahan, maka berilah aku jalan keluar.”

Perempuan tua itu berkata, “Tidak perlu penyesalan bagi kalian hari ini, Allah pasti mengampuni kalian.” (QS. Yusuf : 92)

Ibnu Mubarak berkata, “Maukah engkau mengendarai untaku ini, agar dapat menyusul rombonganmu?”

Perempuan tua itu menjawab, “Kebaikan apa pun yang engkau lakukan, Allah pasti mengetahuinya.” (QS. Al-Baqarah : 197)

Ibnu Mubarak berkata, “Maka aku pun mendudukkan untaku.”

Perempuan tua itu berkata. “Katakan kepada orang-orang beriman, hendaknya mereka menundukkan pandangan mereka.” (QS. An-Nur : 30). Ibnu Mubarak pun lantas memalingkan pendangannya dari perempuan tua itu, lalu berkata, “Sekarang naiklah .” Namun ketika hendak naik, unta itu tiba-tiba bangun lalu lari dan baju perempuan tua itu sobek.

Perempuan tua itu berkata, “Musibah apa pun yang menimpa kalian, itu adalah akibat dari perbuatan tangan kalian.” (QS. Asy-Syu’ara : 30)

Ibnu Mubarak berkata, “Bersabarlah, hingga aku dapat menjinakkan dan mengikat unta itu.”

Perempuan tua itu berkata, “Lalu Kami beri pengertian tentang hukum kepada Sulaiman.” (QS. Al-Anbiya’ : 79). Setelah dapat dikuasai lalu Ibnu Mubarak mengikat unta itu.

Ibnu Mubarak berkata, “Sekarang, naiklah.” Perempuan tua itu kemudian naik, dan berkata, “Maha suci Allah yang telah menundukkan semua ini untuk kami, padahal sebelumnya kami tidak mampu menguasainya dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami.” (QS. Az-Zuhruf : 13 – 14).

Lalu, Ibnu Mubarak pun memegang kendali untuanya dan memacu larinya sambil berteriak keras.

Perempuan tua itu berkata, “Dan sederhanakanlah jalanmu dan lunakkanlah suaramu, sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai.” (QS. Luqman : 19)

Ibnu Mubarak pun kemudian berjalan pelan-pelan sambil mendendangkan bait-bait syair.

Perempuan tua itu berkata, “Maka bacalah apa yang mudah bagimu dari Al-Qur’an.” (QS. Al-Muzammil : 20)
Ibnu Mubarak berkata, “Engkau telah dianugerahi kebaikan yang sangat banyak.”

Perempuan tua itu berkata, “Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran dari firman Allah.” (QS. Al-Baqarah : 269)

Ibnu Mubarak berkata, “Apakah engkau mempunyai suami?”

Perempuan tua itu menjawab, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah menanyakan sesuatu yang jika diterangkan kepada kalian niscaya akan menyusahkan kalian.” (QS. Al-Maidah : 101)

Ibnu Mubarak lalu diam, tidak mengajaknya bicara lagi hingga rombongannya terlihat dan ia dapat menyusulnya.

Ibnu Mubarak berkata, “Itukah kafilahmu? Siapa saudaramu di dalam kafilah itu?”

Perempuan tua itu menjawab, “Harta benda dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia.” (QS. Al-Kahfi : 46). Ibnu Mubarak mengerti bahwa perempuan tua ini mempunyai anak-anak.

Ibnu Mubarak berkata, “Bagaimana keadaan mereka pada waktu ibadah haji?”

Perempuan tua menjawab, “Dan Dia ciptakan tanda-tanda petunjuk jalan dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl : 16). Ibnu Mubarak mengerti jawabannya itu bahwa mereka menjadi penunjuk jalan dengan melihat kubah-kubah, bangunan-bangunan dan letak bintang.”

Ibnu Mubarak berkata, “Siapa yang ada di sana itu?”

Perempuan tua itu menjawab, “Dan Allah menjadikan Ibrahim kesayangan-Nya.” (QS. An-Nisa’ : 125) “Dan Allah berbicara kepada Musa secara langsung.” (QS. An-Nisa’ : 164) “Wahai Yahya, ambillah al-Kitab itu dengan sungguh-sungguh.” (QS. Maryam : 12) Lalu Ibnu Mubarak memanggil ketiga nama itu.

Ibnu Mubarak, “Hai Ibrahim, hai Musa, hai Yahya.” Segeralah para pemuda itu datang menyambut panggilannya, lalu mereka duduk berdekatan.

Perempuan tua itu berkata, “Maka suruhlah salah seorang diantara kalian pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini dan hendaklah ia lihat, manakah makanan yang lebih baik, lalu hendaklah ia membawa makanan itu untuk kalian.” (QS. Al-Kahfi : 19). Kemudian salah seorang diantara mereka pergi, lalu kembali dengan membawa makanan untuk dihidangkan kepadaku. Perempuan tua itu mempersilahkanku untuk makan sambil berkata, “Makanlah dan minumlah dengan nikmat sebagai balasan atas yang telah kalian kerjakan pada hari-hari yang telah lalu.” (QS. Al-Haqqah : 24). Setelah makan, Ibnu Mubarak memandang muka ketiga pemuda itu, karena rasa penasaran yang semakin menguat.

Dia berkata, “Aku ingin tahu tentang ibu kalian ini.” Mereka menjawab bahwa sejak empat puluh tahun yang lalu ia tidak berbicara selain dengan ayat-ayat al-Qur’an karena khawatir salah bicara.

Ibnu Mubarak berkata, “Itulah karunia Allah yang diberikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki dan Allah Mahaluas lagi Maha mengetahui.” (QS. Al-Maidah : 54)

Sumber :
1001 Kisah Teladan oleh Hani Al-Hajj
Continue Reading...

Minggu, 04 November 2012

Islamnya Abu Dzar Al-Ghifari


Abu Dzar Al-Ghifari ra. termasuk salah seorang di antara para sahabat Rasulullah saw. yang terkenal. Selanjutnya, ia menjadi orang yang benar-benar zahid dan termasuk dalam golongan para alim ulama.

Ali ra. berkata, “Abu Dzar telah memiliki ilmu yang tidak dimiliki oleh orang lain, dan ia telah menjaga ilmunya dengan baik.”

Ketika ia baru saja mendengar kabar akan kenabian Rasulullah saw., maka ia telah mengirimkan saudaranya ke Makkah, untuk memastikan adanya berita tersebut. Ia memerintahkan saudaranya bahwa apabila ada orang yang mengaku, “Telah datang wahyu kepadaku, dan telah datang kabar dari langit,” maka ia supaya mencari kabar mengenai dirinya dan supaya mendengarkan baik-baik kata-katanya.

Saudaranya pun pergi ke Makkah, dan ia mulai menyelidiki keadaan di sana. Setelah selesai, ia pun kembali, dan mengabarkan kepada saudaranya, “Saya telah melihat bahwa ia memiliki adat yang bagus, akhlak yang terpuji, dan saya telah mendengarkan kata-katanya yang begitu indah, tetapi bukan kata-kata syair dan juga bukan kata-kata ahli sihir.”

Abu Dzar Al-Ghifari tidak puas atas laporan saudaranya tersebut. Maka ia menyiapkan barang-barangnya dan memutuskan untuk pergi sendiri ke Makkah. Setibanya di sana, ia langsung menuju Masjidil Haram. Ia belum mengenal wajah Nabi saw. Untuk bertanya pun, ia menganggap kurang baik bagi kemashlahatan dirinya. Sehingga sampai tiba waktu sore, ia masih dalam keadaan yang demikian.

Pada sore harinya, Ali ra. melihat seorang musafir yang terlantar, seorang musafir miskin dan tidak tahu apa pun. Maka ia merasa tersentuh untuk membantu dan memenuhi hajat musafir tersebut. Kemudian Ali ra. mengajak ke rumahnya. Ia melayani keperluan tamunya, tetapi Ali ra. tidak sedikit pun bertanya mengenai siapakah dia dan apakah maksud kedatangannya. Sementara musafir tersebut juga tidak mengemukakan keperluannya kepada tuan rumah.

Pada pagi harinya, ia datang lagi ke masjid. Ia mencari berita sendiri dan tidak berani bertanya kepada orang lain. Kemungkinan yang menjadi penyebabnya adalah karena sikap orang-orang kafir yang memusuhi Rasulullah saw. sudah menjadi berita yang masyhur. Beliau dan orang-orang yang berani menemani beliau akan mendapat gangguan dari mereka. Ia berpikir bahwa karena ia belum mengetahui keadaan yang sesungguhnya, maka ia harus bersikap waspada sehingga gangguan yang buruk tidak akan menimpanya.

Sore harinya pada hari yang kedua, Ali ra. berpikir bahwa kedatangan musafir yang terlantar ini pasti mempunyai maksud dan tujuan, tetapi ia belum mengutarakannya. Maka ia mengajak tamunya tersebut untuk menginap kembali di rumahnya. Malam telah berlalu, tetapi Ali ra. belum memperoleh kesempatan untuk bertanya kepadanya.

Pada hari yang ketiga keadaannya masih sama dengan hari-hari sebelumnya. Akhirnya Ali ra. pun memberanikan diri untuk bertanya kepada tamunya, “Apakah maksud dan tujuanmu datang ke sini?” Kemudian Abu Dzar meminta supaya Ali ra. berjanji akan menjawab setiap pertanyaannya dengan jujur. Setelah itu barulah ia bersedia mengemukakan maksud tujuan kedatangannya.

Ali karomallahi wajhahu, setelah mendengarkan penuturan tamunya tersebut berkata, “Sungguh, engkau benar-benar seorang yang diutus Allah, besok pagi jika aku berangkat, ikutlah denganku, akan aku antarkan engkau kepada beliau. Tetapi orang-orang yang menentangnya sangat banyak, jika ketahuan, sangat membahayakan. Oleh karena itu agar kepergianku tidak dicurigai, jika ada bahaya yang mengancam, aku akan berpisah agak jauh darimu, dan engkau pura-pura buang air kecil atau memperbaiki sepatumu, sehingga perjalanan kita tidak diketahui orang.”

Esok paginya, dengan sembunyi-sembunyi Ali ra. bersama musafir tersebut telah sampai ke tempat kediaman Rasulullah saw. Kemudian mereka berbincang-bincang dengan Rasulullah saw. Pada saat itulah Abu Dzar ra. masuk Islam. Setelah ia memeluk agama Islam, Rasulullah saw. sangat mengkhawatirkan keselamatan Abu Dzar Al-Ghifari sehingga beliau melaran Abu Dzar ra. supaya tidak menampakkan keislamannya di hadapan umum. Sabda Rasulullah saw. kepadanya, “Pulanglah kepada kaummu dengan sembunyi-sembunyi, jika kami sudah menang datanglah lagi ke sini.” Kemudian Abu Dzar berkata kepada Rasulullah saw., “Wahai Rasulullah, demi Dzat yang nyawaku berada di tangan-Nya, sungguh aku bersumpah akan mengikrarkan kalimat tauhid ini di tengah-tengah mereka yang tidak beriman.” Setelah berkata demikian, langsung saja ia menuju ke Masjidil Haram. Dengan suara yang nyaring serta lantang ia mengucapkan kalimat tauhid.

Begitu ia selesai mengikrarkan kalimat tauhid tersebut, orang-orang pun berdatangan memukulinya dari empat penjuru sehingga karena luka-luka yang memenuhi tubuhnya, hampir saja ia menemui ajalnya. Untunglah paman Rasulullah saw., Abbas, yang saat itu masih belum masuk Islam, berusahaa menghalangi siksaan kaumnya kepada Abu Dzar, seraya berteriak kepada orang-orang, “Kalian sungguh kejam, orang ini dari suku Ghifar. Kabilah ini tinggal di antara jalan yang menuju ke Syam. Jika ia mati, maka jalan menuju dan pulang dari Syam akan tertutup bagi kita.”

Dengan kata-kata tersebut timbullah kesadaran pada diri orang-orang yang memukulinya. Memang, segala kebutuhan mereka datan dari Syam, dan jika sampai tertutup, maka itu merupakan suatu musibah bagi mereka. Akhirnya mereka pun meninggalkan Abu Dzar Al-Ghiffari.
Pada hari kedua, Abu Dzar telah berbuat hal yang sama. Ia pergi ke Masjidil Haram, mengucapkan kalimat tauhid dengan suara yang keras di hadapan orang banyak. Dan orang-orang pun tidak menyukai kalimat tersebut, sehingga mereka kembali memukulinya. Pada hari kedua juga Abbas, mengingatkan kaumnya lagi bahwa jika sampai ia tewas, maka perjalanan dagang ke Syam akan tertutup. Lalu mereka pun meninggalkannya kembali.

Sumber:
Himpunan Fadhilah Amal oleh Maulana Zakariyya Al-Kandahlawi
Continue Reading...

Aku Datang Untuk Mencurinya Tetapi Ia Justru Mencuriku


“Dan seandainya Allah memberi petunjuk kepada seseorang dengan sebab engkau, maka hal itu lebih baik bagimu daripada apa yang dijangkau matahari sejak terbit hingga terbenam.” (HR. Bukhari)


Disebutkan bahwa seorang pencuri memanjat tembok rumah Malik bin Dinar, lalu masuk menyelinap, namun ia tidak menemukan apa pun yang dapat ia curi. Sementara tuan rumah sedang khusyu’ melakukan shalat memperpendek shalatnya karena merasa ada sesuatu yang menganggu shalatnya. Kemudian Malik bin Dinar menoleh ke arah pencuri itu seraya mengucapkan salam kepadanya dan berkata, “Semoga Allah memberimu taubat, engkau memasuki rumahku, tetapi tidak menemukan sesuatu yang dapat engkau ambil. Namun aku tidak akan membiarkan engkau keluar sia-sia.

Malik bin Dinar kemudian membawakan bejana penuh dengan air dan berkata kepadanya, “Ambillah air wudlu, lalu lakukan shalat dua rakaat, nanti engkau keluar dengan membawa sesuatu yang lebih baik dari pada apa yang engkau cari dengan datang ke sini!” Mendengar ketulusan Malik bin Dinar, pencuri itu terharu lalu menjawab, “Baik, aku jadi tersanjung!”

Pencuri itu kemudian mengambil wudhul lalu melakukan shalat dua rakaat. Ia merasakan getaran jiwa luar biasa, lalu meminta Malik bin Dinar apabila tidak keberatan untuk mengizinkannya menambah shalat dua rakaat lagi.

Betapa nasihat Malik bin Dinar telah mengubah niat pencuri ini dalam waktu sekejap! Tentu, permintaannya itu justru menambah ketulusan Malik bin Dinar. Lalu pencuri itu terus melakukan shalat hingga pagi hari.

“Sekarang, pulanglah baik-baik,” kata Malik bin Dinar. Ia menjawab, “Tuanku, apakah engkau berkenan jika aku tinggal di sini bersamamu karena aku telah berniat puasa hari ini?” Malik bin Dinar menjawab, “Tentu, aku senang, tinggallah selama engkau mau.” Pencuri itu pun lalu tinggal di rumah Malik bin Dinar selama berhari-hari dengan melakukan puasa dan bangun malam untuk shalat. Ketika hendak pulang pencuri itu berkata, “Wahai Malik bin Dinar, aku telah berniat melakukan taubat.” Malik bin Dinar menjawab, “Itu di tangan Allah Swt.” Ia kemudian benar-benar bertaubat.

Dalam perjalanan pulang ia bertemu dengan salah seorang pencuri yang ia kenal baik, lalu ditanya, “Aku pikir engkau memperoleh harta karun!” Ia menjawab, “Saudaraku, aku bertemu dengan Malik bin Dinar ketika aku masuk menyelinap hendak mencurinya tetapi ia justru mencuriku. Kini aku telah bertaubat kepada Allah Swt. Oleh sebab itu mulai sekarang aku akan lebih banyak di rumah sehingga mendapatkan apa yang didapat para kekasih Allah.

Sumber :
1001 Kisah Teladan oleh Hani Al-Hajj
Continue Reading...

Minggu, 28 Oktober 2012

Saat-Saat Bagimu Untuk Berbuka





Memasuki hari terakhir dari hari tasyrik ini, yakni tepat tanggal 13 Dzulhijjah, semoga artikel ini masih dapat bermanfaat bagi pembacanya meskipun sangat terlambat dalam mempublikasikannya.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------







Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tidak ada Tuhan melainkan Allah, Allah Maha Besar. Allah Maha Besar dan bagi Allah segala pujian.










Allah Maha Besar lagi sempurna Kebesaran-Nya, segala puji bagi-Nya dan Maha Suci Allah sepanjang pagi dan petang. Tiada Tuhan melainkan Allah dan tidak ada yang kami sembah kecuali hanya Allah, dengan ikhlas kami beragama kepada-Nya, walaupun orang-orang kafir membenci. Tidak ada Tuhan melainkan Allah sendiri-Nya, benar janji-Nya, dan Dia menolong akan hamba-Nya, dan Dia mengusir musuh Nabi-Nya dengan sendiri-Nya. Tiada Tuhan melainkan Allah dan Allah Maha Besar. Allah Maha Besar dan bagi Allah segala pujian.

Gema takbir telah berkumandang sejak tanggal 9 Dzulhijjah lalu, dengan puncaknya pada malam tanggal 10 Dzulhijjah hingga pelaksanaan penyembelihan hewan qurban usai. Takbir tersebut akan berkumandang hingga sampai akhir hari Tasyriq, yakni pada tanggal 13 Dzulhijjah. Ini merupakan pendapat yang dianut oleh kebanyakan ulama. Berikut ini, akan dibahas mengenai keutaman dan keberkahan hari-hari Tasyriq.

Hari-Hari Tasyriq

Hari tasyriq adalah tiga hari setelah hari raya Idul Adha, yakni pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Dalam sebuah referensi, hari-hari tersebut dinamakan hari tasyriq karena pada hari itu orang-orang mengeringkan atau mendendengkan dan menyebarkan daging kurban.

Allah Swt. berfirman:




Artinya:
“Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang.” (QS. Al-Baqarah : 203)

Menurut Ibnu ‘Abbas, “beberapa hari yang berbilang” yang disebutkan dalam ayat di atas adalah hari-hari tasyriq.

Salah satu keutamaan yang dimiliki hari-hari tasyriq adalah pada hari-hari tersebut dilaksanakan beberapa amalan manasik haji, seperti hari (mabit) di Mina, hari-hari melontar jumrah, hari-hari menyembelih hewan kurban dan lain sebagainya. Dan di antara hari-hari Tasyriq sendiri, maka hari yang paling utama adalah hari pertamanya, sebagaimana dalam hadits berikut:




Artinya:
“Hari yang paling agung di sisi Allah adalah hari ‘Idul Adha (yaumun Nahr) kemudian hari setelahnya (yaumul qarri).” (H.R. Abu Dawud)

Dinamakan yaumul qarri karena pada hari itu para jama’ah haji tengah berada di Mina dan berdiam diri di sana serta melontar jumroh.

Selain itu, hari-hari tasyriq merupakan hari-hari untuk makan dan minum serta memperbanyak dzikir kepada Allah Swt. Hal ini sesuai dengan hadits di dalam as-Sunan dari ‘Uqbah bin ‘Amir r.a. bahwa dia berkata, Rasulullah Saw. bersabda:




Artinya:
“Hari ‘Arafah, hari raya kurban (yaumun Nahr) dan hari-hari tasyriq merupakan hari raya kita pemeluk  Islam, dan dia merupakan hari-hari makan dan minum.” (H.R. Abu Dawud)


Dan, dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari hadits Nabisyah al-Hadzali r.a. ia berkata, Rasulullah Saw. bersabda, “Hari-hari tasyriq adalah hari-hari makan dan minum.” Dan dalam suatu riwayat dengan tambahan: “Dzikir kepada Allah.”

Kedua hadits ini menjadi dasar dilarangnya berpuasa di hari raya Idul Adha dan hari-hari tasyriq. Dalam hadits yang pertama disebutkan juga hari ‘Arafah. Untuk hari ‘Arafah yang disunnahkan untuk berpuasa adalah orang yang tidak melaksanakan ibadah haji, seperti yang telah dijelaskan dalam artikel sebelumnya.

Pada hari-hari tasyriq disyari’atkan untuk bertakbir sebagaimana dilakukan oleh para Sahabat r.a dan generasi Salaf yang datang setelah masa mereka (para Sahabat). Takbir ini juga merupakan salah satu bentuk dari berbagai bentuk dzikir kepada Allah Swt. Selain itu, juga masih diperbolehkan untuk melakukan penyembelihan hewan kurban, seperti yang telah diterangkan sebelumnya.

Sedikit Ulasan tentang Makna Kurban

Hari Raya Kurban sangat erat kaitannya dengan ibadah haji serta bentuk pengorbanan Nabi Ibrahim a.s. berabad-abad tahun yang lalu. Beliau adalah salah seorang Nabi dan Rasul Allah yang diagungkan. Beliau rela mengorbankan putra kesayangannya, Nabi Ismail a.s hanya karena Allah Swt.

Manusia telah mengenal kurban sejak dini, bahkan sejak putra-putra pertama Adam a.s. Pada masa Nabi Ibrahim dan sebelumnya, manusia seringkali menjadikan manusia sebagai kurban (sesajen) kepada tuhan-tuhan atau dewa-dewa yang mereka sembah.

Di Mesir, misalnya, gadis tercantik dipersembahkan kepada Dewi Sungai Nil. Sementara di Kanaan, Irak, bayi-bayi dipersembahkan kepada Dewa Baal. Suku Aztec di Meksiko lain lagi, mereka menyerahkan jantung dan darah manusia kepada Dewa Matahari. Di Eropa Utara, orang-orang Viking yang tadinya mendiami Skandinavia mengurbankan pemuka-pemuka agama mereka kepada Dewa Perang “Odin”.

Nabi Ibrahim a.s. hidup pada abad ke-18 SM, suatu masa ketika terjadi persimpangan jalan pemikiran kemanusiaan tentang kurban-kurban yang masih berwujud manusia. Di satu pihak ada yang mempertahankan dan di pihak lain ada pula yang beranggapan bahwa manusia terlalu mulia dan tinggi nilainya untuk dikurbankan kepada Zat yang disembah. Di sinilah ajaran yang dibawa oleh Nabi Ibrahim memberi jalan keluar yang memuaskan semua pihak. Beliau diperintahkan oleh Allah SWT melalui suatu mimpi untuk menyembelih anaknya sebagai isyarat bahwa anak tercinta bukanlah sesutau yang berarti jika Tuhan telah meminta. Tidak ada sesuatu yang dapat dinilai tinggi jika dihadapkan dengan perintah Tuhan.

Ibadah kurban hukumnya sunah muakad (sangat dianjurkan) bagi orang yang mampu secara materi. Ini seperti dijelaskan oleh Rasulullah Saw., “Barangsiapa memiliki kelapangan keuangan, lalu ia tidak berkurban, maka jangalah ia datang ke tempat shalat kami.” (H.R. Ahmad).

Dalam perintah pelaksanaan ibadah kurban, terdapat beberapa makna penting yang harus kita perhatikan, sebagai acuan tentang sejauh mana kesungguhan kita dalam berkurban.

Pertama,dilihat dari asal katanya, Qurban memiliki makna dekat. Dengan demikian ibadah kurban merupakan salah satu usaha Muslim mendekatkan diri kepada Allah Swt. Kemauan dan kesungguhan dalam berkurban terkait pula dengan ketakwaan seseorang. Takwa inilah yang dinilai oleh Allah Swt. Hal ini sesuai dengan firman-Nya:





Artinya:


“Daging-dagingnya dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah Swt. tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (QS. Al-Hajj : 37).



Kedua, ibadah kurban merupakan salah satu bentuk syukur kita kepada Allah Swt. atas nikmat yang diterima selama ini. Firman Allah Swt., “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka, dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.” (QS. Al-Kautsar : 1 – 2)



Ketiga, penyembelihan hewan kurban merupakan salah satu bentuk  kepedulian sesama dan indahnya berbagi, terutama yang kurang mampu melalui pendistribusian daging kurban kepada mereka. Melalui pembagian daging kurban diharapkan dapat tercipta kebersamaan dan mengeratkan tali persaudaraan antara Muslim dan manusia secara keseluruhan. 


Keempat, kurban yang dilakukan dengan menumpahkan darah hewan adalah simbol agar orang berkurban menanggalkan sifat-sifat kebinatangan yang melekat pada dirinya, misalnya sifat bengis, licik, dan egoisme, dan lainnya. Begitu pula melalui kurban seorang Muslim diminta menanggalkan penghambaan sesama makhluk, karena Islam hanya membenarkan penghambaan kepada Allah Swt. Semua sifat yang buruk itu harus dijauhkan dari kehidupan Muslim, kapan dan di mana pun. 

Dalam pengertian lebih luas, upaya mendekatkan diri kepada Allah Swt. Dalam kehidupan sehari-hari dapat dilakukan dengan berkurban, bukan hanya dengan menyembelih hewan, tetapi bisa juga dalam bentuk lain. Misalnya memberikan sebagian harta kita untuk kemashlahatan, seperti membantu fakir miskin, membangun tempat ibadah, sarana pendidikan, dan berbagai kepentingan umat lainnya. Nilai dan makna kurban di atas perlu dimiliki setiap komponen bangsa untuk mengisi pembangunan ke depan dan guna menumbuhkan solidaritas antarsesama anak bangsa. Ini perlu digarisbawahi karena kini semakin langka saja orang yang mau berkurban untuk kepentingan orang lain.

Segenap redaksi mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha 1433 H. Semoga segala ibadah kita baik, bertakbir, haji, berkurban, dan lainnya diterima oleh Allah Swt. sebagai amal ibadah yang akan menjadi bekal kita untuk menghadapi hari kiamat kelak. Amin Ya Robbal ‘Alamin.



Referensi:

·         Amalan dan Waktu yan Diberkahi oleh Dr. Nashir bin ‘Abdirrahman bin Muhammad al-Juda’i
·         Lentera Hati oleh Muhammad Quraish Shihab
·       Ensiklopedi Hikmah oleh Abdul Halim Fathani



Sumber gambar:
http://3.bp.blogspot.com/.../Hari+Raya+Korban+1433+H.png

  http://harisamumindunlop.files.wordpress.com/2012/10/sms-ucapan-selamat-idul-adha.jpg




















Continue Reading...