Minggu, 18 November 2012

Mendahulukan Teman


Al-Waqidi menuturkan bahwa ia mempunyai dua orang teman, satu di antara keduanya adalah keturunan Hasyim. Mereka telah menjadi ibarat satu jiwa. Suatu saat kesulitan hidup dialami oleh keluarga Al-Waqidi dan hari raya Idul Fitri tiba. Maka yang muncul dalam pikirannya adalah anak-anaknya yang masih kecil karena melihat anak-anak tetangga memakai pakaian baru dan tampak gembira. Sedang al-Waqidi sendiri dan istrinya dapat menjalani hidup dalam kesulitan meskipun dalam suasana hari raya.

Dalam keadaan seperti itu, terbelik dalam hatinya ingin menulis surat kepada sahabat karibnya yang keturunan Hasyim itu. Ia pun kemudian menulis surat dengan menceritakan keadaan yang sedang ia alami. Selang beberapa waktu kemudian, sahabatnya itu mengirim bungkusan berisi uang seribu dirham. Namun tidak lama kemudian sahabat karib satunya lagi ternyata datang dan mengeluhkan kesulitan hidup yang sama kepada al-Waqidi. Oleh sebab itu, karena tidak ingin sahabatnya mengalami kesusahan, uang itu kemudian diberikan kepadanya saat itu juga. Al-Waqidi kemudian berdiam dir dalam masjid karena malu dengan istrinya. Setelah pulang ke rumah, ia menceritakan perihal uang dari awal hingga akhir. Istrinya yang dikira akan kecewa dengan sikapnya itu ternyata sebaliknya justru memuji atas keluhuran jiwanya itu.

Dalam keadaan seperti itu, sahabat dekatnya yang keturunan Hasyim itu datang lagi dengan membawa bungkusan persis seperti yang diberikan kepada Al-Waqidi sebelumnya, seraya berkata: “Ketahuilah bahwa ketika engkau menyampaikan kesulitan hidup kepadaku, maka kemudian aku berikan kepadamu uang ini. Sementara hanya inilah uang yang aku miliki. Karena aku ingin berbagi rasa dengan sahabat kita maka aku menceritakan keadaan hidup yang sedang aku alami. Tidak lama kemudian sahabat kita itu mengirim bungkusan uang ini tanpa memberi tahu darimana uang ini ia dapatkan!” Kemudian uang itu dibagi untuk tiga orang bersahabat karib itu.

Ketika Khalifah Al-Ma’mun mendengar peristiwa itu Al-Waqidi dipanggil ke istananya. Karena tidak mengetahui alasan mengapa ia dipanggil, hati Al-Waqidi dipenuhi rasa penasaran yang bercampur takut selama dalam perjalanan menuju ke istana Khalifah sehingga ia tidak merasakan jarak perjalanan. Setelah meminta agar Al-WAqidi menceritakan kisahnya, Khalifah Al-Ma’mun memberi perintah agar diberi hadiah tujuh ribu dinar, masing-masing dari tiga orang bersahabat itu dua ribu dinar sementara untuk istri Al-Waqidi seribu dinar.

Sumber :
1001 Kisah Teladan oleh Hani Al-Hajj

1 komentar:

  1. Hm, artikel udah mulai rame. Pengunjung nih yang masih kurang oke. Coba lebih gencar dipromosiin lagi ke grup fesbuk, di buletin, mading, acara-acara REMAS yang lain. Dipromosiin kalau REMAS RI punya website loh, kunjungi yuk! Encourage them for leaving comments too! :-D ganbattene!

    BalasHapus