Al-Waqidi menuturkan bahwa ia mempunyai dua orang
teman, satu di antara keduanya adalah keturunan Hasyim. Mereka telah menjadi
ibarat satu jiwa. Suatu saat kesulitan hidup dialami oleh keluarga Al-Waqidi
dan hari raya Idul Fitri tiba. Maka yang muncul dalam pikirannya adalah
anak-anaknya yang masih kecil karena melihat anak-anak tetangga memakai pakaian
baru dan tampak gembira. Sedang al-Waqidi sendiri dan istrinya dapat menjalani
hidup dalam kesulitan meskipun dalam suasana hari raya.
Dalam keadaan seperti itu, terbelik dalam hatinya
ingin menulis surat kepada sahabat karibnya yang keturunan Hasyim itu. Ia pun
kemudian menulis surat dengan menceritakan keadaan yang sedang ia alami. Selang
beberapa waktu kemudian, sahabatnya itu mengirim bungkusan berisi uang seribu
dirham. Namun tidak lama kemudian sahabat karib satunya lagi ternyata datang
dan mengeluhkan kesulitan hidup yang sama kepada al-Waqidi. Oleh sebab itu,
karena tidak ingin sahabatnya mengalami kesusahan, uang itu kemudian diberikan
kepadanya saat itu juga. Al-Waqidi kemudian berdiam dir dalam masjid karena
malu dengan istrinya. Setelah pulang ke rumah, ia menceritakan perihal uang
dari awal hingga akhir. Istrinya yang dikira akan kecewa dengan sikapnya itu
ternyata sebaliknya justru memuji atas keluhuran jiwanya itu.
Dalam keadaan seperti itu, sahabat dekatnya yang
keturunan Hasyim itu datang lagi dengan membawa bungkusan persis seperti yang
diberikan kepada Al-Waqidi sebelumnya, seraya berkata: “Ketahuilah bahwa ketika
engkau menyampaikan kesulitan hidup kepadaku, maka kemudian aku berikan
kepadamu uang ini. Sementara hanya inilah uang yang aku miliki. Karena aku
ingin berbagi rasa dengan sahabat kita maka aku menceritakan keadaan hidup yang
sedang aku alami. Tidak lama kemudian sahabat kita itu mengirim bungkusan uang
ini tanpa memberi tahu darimana uang ini ia dapatkan!” Kemudian uang itu dibagi
untuk tiga orang bersahabat karib itu.
Ketika Khalifah Al-Ma’mun mendengar peristiwa itu
Al-Waqidi dipanggil ke istananya. Karena tidak mengetahui alasan mengapa ia
dipanggil, hati Al-Waqidi dipenuhi rasa penasaran yang bercampur takut selama
dalam perjalanan menuju ke istana Khalifah sehingga ia tidak merasakan jarak
perjalanan. Setelah meminta agar Al-WAqidi menceritakan kisahnya, Khalifah
Al-Ma’mun memberi perintah agar diberi hadiah tujuh ribu dinar, masing-masing
dari tiga orang bersahabat itu dua ribu dinar sementara untuk istri Al-Waqidi
seribu dinar.
Sumber
:
1001 Kisah Teladan oleh Hani Al-Hajj
Hm, artikel udah mulai rame. Pengunjung nih yang masih kurang oke. Coba lebih gencar dipromosiin lagi ke grup fesbuk, di buletin, mading, acara-acara REMAS yang lain. Dipromosiin kalau REMAS RI punya website loh, kunjungi yuk! Encourage them for leaving comments too! :-D ganbattene!
BalasHapus