Minggu, 28 Oktober 2012

Saat-Saat Bagimu Untuk Berbuka





Memasuki hari terakhir dari hari tasyrik ini, yakni tepat tanggal 13 Dzulhijjah, semoga artikel ini masih dapat bermanfaat bagi pembacanya meskipun sangat terlambat dalam mempublikasikannya.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------







Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tidak ada Tuhan melainkan Allah, Allah Maha Besar. Allah Maha Besar dan bagi Allah segala pujian.










Allah Maha Besar lagi sempurna Kebesaran-Nya, segala puji bagi-Nya dan Maha Suci Allah sepanjang pagi dan petang. Tiada Tuhan melainkan Allah dan tidak ada yang kami sembah kecuali hanya Allah, dengan ikhlas kami beragama kepada-Nya, walaupun orang-orang kafir membenci. Tidak ada Tuhan melainkan Allah sendiri-Nya, benar janji-Nya, dan Dia menolong akan hamba-Nya, dan Dia mengusir musuh Nabi-Nya dengan sendiri-Nya. Tiada Tuhan melainkan Allah dan Allah Maha Besar. Allah Maha Besar dan bagi Allah segala pujian.

Gema takbir telah berkumandang sejak tanggal 9 Dzulhijjah lalu, dengan puncaknya pada malam tanggal 10 Dzulhijjah hingga pelaksanaan penyembelihan hewan qurban usai. Takbir tersebut akan berkumandang hingga sampai akhir hari Tasyriq, yakni pada tanggal 13 Dzulhijjah. Ini merupakan pendapat yang dianut oleh kebanyakan ulama. Berikut ini, akan dibahas mengenai keutaman dan keberkahan hari-hari Tasyriq.

Hari-Hari Tasyriq

Hari tasyriq adalah tiga hari setelah hari raya Idul Adha, yakni pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Dalam sebuah referensi, hari-hari tersebut dinamakan hari tasyriq karena pada hari itu orang-orang mengeringkan atau mendendengkan dan menyebarkan daging kurban.

Allah Swt. berfirman:




Artinya:
Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang.” (QS. Al-Baqarah : 203)

Menurut Ibnu ‘Abbas, “beberapa hari yang berbilang” yang disebutkan dalam ayat di atas adalah hari-hari tasyriq.

Salah satu keutamaan yang dimiliki hari-hari tasyriq adalah pada hari-hari tersebut dilaksanakan beberapa amalan manasik haji, seperti hari (mabit) di Mina, hari-hari melontar jumrah, hari-hari menyembelih hewan kurban dan lain sebagainya. Dan di antara hari-hari Tasyriq sendiri, maka hari yang paling utama adalah hari pertamanya, sebagaimana dalam hadits berikut:




Artinya:
Hari yang paling agung di sisi Allah adalah hari ‘Idul Adha (yaumun Nahr) kemudian hari setelahnya (yaumul qarri).” (H.R. Abu Dawud)

Dinamakan yaumul qarri karena pada hari itu para jama’ah haji tengah berada di Mina dan berdiam diri di sana serta melontar jumroh.

Selain itu, hari-hari tasyriq merupakan hari-hari untuk makan dan minum serta memperbanyak dzikir kepada Allah Swt. Hal ini sesuai dengan hadits di dalam as-Sunan dari ‘Uqbah bin ‘Amir r.a. bahwa dia berkata, Rasulullah Saw. bersabda:




Artinya:
Hari ‘Arafah, hari raya kurban (yaumun Nahr) dan hari-hari tasyriq merupakan hari raya kita pemeluk  Islam, dan dia merupakan hari-hari makan dan minum.” (H.R. Abu Dawud)


Dan, dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari hadits Nabisyah al-Hadzali r.a. ia berkata, Rasulullah Saw. bersabda, “Hari-hari tasyriq adalah hari-hari makan dan minum.” Dan dalam suatu riwayat dengan tambahan: “Dzikir kepada Allah.”

Kedua hadits ini menjadi dasar dilarangnya berpuasa di hari raya Idul Adha dan hari-hari tasyriq. Dalam hadits yang pertama disebutkan juga hari ‘Arafah. Untuk hari ‘Arafah yang disunnahkan untuk berpuasa adalah orang yang tidak melaksanakan ibadah haji, seperti yang telah dijelaskan dalam artikel sebelumnya.

Pada hari-hari tasyriq disyari’atkan untuk bertakbir sebagaimana dilakukan oleh para Sahabat r.a dan generasi Salaf yang datang setelah masa mereka (para Sahabat). Takbir ini juga merupakan salah satu bentuk dari berbagai bentuk dzikir kepada Allah Swt. Selain itu, juga masih diperbolehkan untuk melakukan penyembelihan hewan kurban, seperti yang telah diterangkan sebelumnya.

Sedikit Ulasan tentang Makna Kurban

Hari Raya Kurban sangat erat kaitannya dengan ibadah haji serta bentuk pengorbanan Nabi Ibrahim a.s. berabad-abad tahun yang lalu. Beliau adalah salah seorang Nabi dan Rasul Allah yang diagungkan. Beliau rela mengorbankan putra kesayangannya, Nabi Ismail a.s hanya karena Allah Swt.

Manusia telah mengenal kurban sejak dini, bahkan sejak putra-putra pertama Adam a.s. Pada masa Nabi Ibrahim dan sebelumnya, manusia seringkali menjadikan manusia sebagai kurban (sesajen) kepada tuhan-tuhan atau dewa-dewa yang mereka sembah.

Di Mesir, misalnya, gadis tercantik dipersembahkan kepada Dewi Sungai Nil. Sementara di Kanaan, Irak, bayi-bayi dipersembahkan kepada Dewa Baal. Suku Aztec di Meksiko lain lagi, mereka menyerahkan jantung dan darah manusia kepada Dewa Matahari. Di Eropa Utara, orang-orang Viking yang tadinya mendiami Skandinavia mengurbankan pemuka-pemuka agama mereka kepada Dewa Perang “Odin”.

Nabi Ibrahim a.s. hidup pada abad ke-18 SM, suatu masa ketika terjadi persimpangan jalan pemikiran kemanusiaan tentang kurban-kurban yang masih berwujud manusia. Di satu pihak ada yang mempertahankan dan di pihak lain ada pula yang beranggapan bahwa manusia terlalu mulia dan tinggi nilainya untuk dikurbankan kepada Zat yang disembah. Di sinilah ajaran yang dibawa oleh Nabi Ibrahim memberi jalan keluar yang memuaskan semua pihak. Beliau diperintahkan oleh Allah SWT melalui suatu mimpi untuk menyembelih anaknya sebagai isyarat bahwa anak tercinta bukanlah sesutau yang berarti jika Tuhan telah meminta. Tidak ada sesuatu yang dapat dinilai tinggi jika dihadapkan dengan perintah Tuhan.

Ibadah kurban hukumnya sunah muakad (sangat dianjurkan) bagi orang yang mampu secara materi. Ini seperti dijelaskan oleh Rasulullah Saw., “Barangsiapa memiliki kelapangan keuangan, lalu ia tidak berkurban, maka jangalah ia datang ke tempat shalat kami.” (H.R. Ahmad).

Dalam perintah pelaksanaan ibadah kurban, terdapat beberapa makna penting yang harus kita perhatikan, sebagai acuan tentang sejauh mana kesungguhan kita dalam berkurban.

Pertama,dilihat dari asal katanya, Qurban memiliki makna dekat. Dengan demikian ibadah kurban merupakan salah satu usaha Muslim mendekatkan diri kepada Allah Swt. Kemauan dan kesungguhan dalam berkurban terkait pula dengan ketakwaan seseorang. Takwa inilah yang dinilai oleh Allah Swt. Hal ini sesuai dengan firman-Nya:





Artinya:


Daging-dagingnya dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah Swt. tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (QS. Al-Hajj : 37).



Kedua, ibadah kurban merupakan salah satu bentuk syukur kita kepada Allah Swt. atas nikmat yang diterima selama ini. Firman Allah Swt., “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka, dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.” (QS. Al-Kautsar : 1 – 2)



Ketiga, penyembelihan hewan kurban merupakan salah satu bentuk  kepedulian sesama dan indahnya berbagi, terutama yang kurang mampu melalui pendistribusian daging kurban kepada mereka. Melalui pembagian daging kurban diharapkan dapat tercipta kebersamaan dan mengeratkan tali persaudaraan antara Muslim dan manusia secara keseluruhan. 


Keempat, kurban yang dilakukan dengan menumpahkan darah hewan adalah simbol agar orang berkurban menanggalkan sifat-sifat kebinatangan yang melekat pada dirinya, misalnya sifat bengis, licik, dan egoisme, dan lainnya. Begitu pula melalui kurban seorang Muslim diminta menanggalkan penghambaan sesama makhluk, karena Islam hanya membenarkan penghambaan kepada Allah Swt. Semua sifat yang buruk itu harus dijauhkan dari kehidupan Muslim, kapan dan di mana pun. 

Dalam pengertian lebih luas, upaya mendekatkan diri kepada Allah Swt. Dalam kehidupan sehari-hari dapat dilakukan dengan berkurban, bukan hanya dengan menyembelih hewan, tetapi bisa juga dalam bentuk lain. Misalnya memberikan sebagian harta kita untuk kemashlahatan, seperti membantu fakir miskin, membangun tempat ibadah, sarana pendidikan, dan berbagai kepentingan umat lainnya. Nilai dan makna kurban di atas perlu dimiliki setiap komponen bangsa untuk mengisi pembangunan ke depan dan guna menumbuhkan solidaritas antarsesama anak bangsa. Ini perlu digarisbawahi karena kini semakin langka saja orang yang mau berkurban untuk kepentingan orang lain.

Segenap redaksi mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha 1433 H. Semoga segala ibadah kita baik, bertakbir, haji, berkurban, dan lainnya diterima oleh Allah Swt. sebagai amal ibadah yang akan menjadi bekal kita untuk menghadapi hari kiamat kelak. Amin Ya Robbal ‘Alamin.



Referensi:

·         Amalan dan Waktu yan Diberkahi oleh Dr. Nashir bin ‘Abdirrahman bin Muhammad al-Juda’i
·         Lentera Hati oleh Muhammad Quraish Shihab
·       Ensiklopedi Hikmah oleh Abdul Halim Fathani



Sumber gambar:
http://3.bp.blogspot.com/.../Hari+Raya+Korban+1433+H.png

  http://harisamumindunlop.files.wordpress.com/2012/10/sms-ucapan-selamat-idul-adha.jpg




















1 komentar:

  1. Yeay, update lagi. Semoga tetap posting ya. Yang penting rutin, setiap pekan ada postingan itu udah okeh. :-D Selamat Hari Raya Idul Adha. Wah share dong acara sateannya kemarin. :-D

    BalasHapus