Memasuki hari terakhir dari hari tasyrik
ini, yakni tepat tanggal 13 Dzulhijjah, semoga artikel ini masih dapat
bermanfaat bagi pembacanya meskipun sangat terlambat dalam mempublikasikannya.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Allah Maha Besar, Allah Maha Besar,
Allah Maha Besar. Tidak ada Tuhan melainkan Allah, Allah Maha Besar. Allah Maha
Besar dan bagi Allah segala pujian.
Allah Maha Besar lagi sempurna
Kebesaran-Nya, segala puji bagi-Nya dan Maha Suci Allah sepanjang pagi dan
petang. Tiada Tuhan melainkan Allah dan tidak ada yang kami sembah kecuali
hanya Allah, dengan ikhlas kami beragama kepada-Nya, walaupun orang-orang kafir
membenci. Tidak ada Tuhan melainkan Allah sendiri-Nya, benar janji-Nya, dan Dia
menolong akan hamba-Nya, dan Dia mengusir musuh Nabi-Nya dengan sendiri-Nya.
Tiada Tuhan melainkan Allah dan Allah Maha Besar. Allah Maha Besar dan bagi
Allah segala pujian.
Gema takbir telah berkumandang sejak
tanggal 9 Dzulhijjah lalu, dengan puncaknya pada malam tanggal 10 Dzulhijjah
hingga pelaksanaan penyembelihan hewan qurban usai. Takbir tersebut akan
berkumandang hingga sampai akhir hari Tasyriq, yakni pada tanggal 13 Dzulhijjah.
Ini merupakan pendapat yang dianut oleh kebanyakan ulama. Berikut ini, akan
dibahas mengenai keutaman dan keberkahan hari-hari Tasyriq.
Hari-Hari Tasyriq
Hari tasyriq adalah tiga hari setelah hari raya Idul Adha, yakni pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Dalam sebuah referensi, hari-hari tersebut dinamakan hari tasyriq karena pada hari itu orang-orang mengeringkan atau mendendengkan dan menyebarkan daging kurban.
Artinya:
“Dan berdzikirlah (dengan menyebut)
Allah dalam beberapa hari yang berbilang.” (QS. Al-Baqarah : 203)
Menurut Ibnu ‘Abbas, “beberapa hari yang berbilang” yang disebutkan dalam
ayat di atas adalah hari-hari tasyriq.
Salah satu keutamaan yang dimiliki
hari-hari tasyriq adalah pada hari-hari tersebut dilaksanakan beberapa amalan
manasik haji, seperti hari (mabit) di Mina, hari-hari melontar jumrah,
hari-hari menyembelih hewan kurban dan lain sebagainya. Dan di antara hari-hari
Tasyriq sendiri, maka hari yang paling utama adalah hari pertamanya, sebagaimana
dalam hadits berikut:
Artinya:
“Hari yang paling agung di sisi
Allah adalah hari ‘Idul Adha (yaumun Nahr) kemudian hari setelahnya (yaumul qarri).” (H.R. Abu Dawud)
Dinamakan yaumul qarri karena
pada hari itu para jama’ah haji tengah berada di Mina dan berdiam diri di sana
serta melontar jumroh.
Selain itu, hari-hari tasyriq merupakan
hari-hari untuk makan dan minum serta memperbanyak dzikir kepada Allah Swt. Hal
ini sesuai dengan hadits di dalam as-Sunan dari ‘Uqbah bin ‘Amir r.a. bahwa dia
berkata, Rasulullah Saw. bersabda:
Artinya:
“Hari ‘Arafah, hari raya kurban (yaumun Nahr) dan hari-hari tasyriq merupakan hari raya kita pemeluk Islam, dan dia merupakan hari-hari makan dan minum.” (H.R. Abu Dawud)
Dan, dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari hadits
Nabisyah al-Hadzali r.a. ia berkata, Rasulullah Saw. bersabda, “Hari-hari tasyriq adalah hari-hari makan dan
minum.” Dan dalam suatu riwayat dengan tambahan: “Dzikir kepada Allah.”
Kedua hadits ini menjadi dasar dilarangnya berpuasa di hari raya Idul Adha
dan hari-hari tasyriq. Dalam hadits yang pertama disebutkan juga hari ‘Arafah.
Untuk hari ‘Arafah yang disunnahkan untuk berpuasa adalah orang yang tidak
melaksanakan ibadah haji, seperti yang telah dijelaskan dalam artikel
sebelumnya.
Pada hari-hari tasyriq disyari’atkan
untuk bertakbir sebagaimana dilakukan oleh para Sahabat r.a dan generasi Salaf
yang datang setelah masa mereka (para Sahabat). Takbir ini juga merupakan salah
satu bentuk dari berbagai bentuk dzikir kepada Allah Swt. Selain itu, juga
masih diperbolehkan untuk melakukan penyembelihan hewan kurban, seperti yang
telah diterangkan sebelumnya.
Sedikit Ulasan tentang Makna Kurban
Sedikit Ulasan tentang Makna Kurban
Hari Raya Kurban sangat erat kaitannya dengan
ibadah haji serta bentuk pengorbanan Nabi Ibrahim a.s. berabad-abad tahun yang
lalu. Beliau adalah salah seorang Nabi dan Rasul Allah yang diagungkan. Beliau
rela mengorbankan putra kesayangannya, Nabi Ismail a.s hanya karena Allah Swt.
Manusia telah mengenal kurban sejak
dini, bahkan sejak putra-putra pertama Adam a.s. Pada masa Nabi Ibrahim dan
sebelumnya, manusia seringkali menjadikan manusia sebagai kurban (sesajen)
kepada tuhan-tuhan atau dewa-dewa yang mereka sembah.
Di Mesir, misalnya, gadis tercantik
dipersembahkan kepada Dewi Sungai Nil. Sementara di Kanaan, Irak, bayi-bayi
dipersembahkan kepada Dewa Baal. Suku Aztec di Meksiko lain lagi, mereka
menyerahkan jantung dan darah manusia kepada Dewa Matahari. Di Eropa Utara,
orang-orang Viking yang tadinya mendiami Skandinavia mengurbankan pemuka-pemuka
agama mereka kepada Dewa Perang “Odin”.
Nabi Ibrahim a.s. hidup pada abad ke-18
SM, suatu masa ketika terjadi persimpangan jalan pemikiran kemanusiaan tentang
kurban-kurban yang masih berwujud manusia. Di satu pihak ada yang mempertahankan
dan di pihak lain ada pula yang beranggapan bahwa manusia terlalu mulia dan
tinggi nilainya untuk dikurbankan kepada Zat yang disembah. Di sinilah ajaran
yang dibawa oleh Nabi Ibrahim memberi jalan keluar yang memuaskan semua pihak.
Beliau diperintahkan oleh Allah SWT melalui suatu mimpi untuk menyembelih
anaknya sebagai isyarat bahwa anak tercinta bukanlah sesutau yang berarti jika Tuhan telah meminta. Tidak ada
sesuatu yang dapat dinilai tinggi jika dihadapkan dengan perintah Tuhan.
Ibadah kurban hukumnya sunah muakad
(sangat dianjurkan) bagi orang yang mampu secara materi. Ini seperti dijelaskan
oleh Rasulullah Saw., “Barangsiapa
memiliki kelapangan keuangan, lalu ia tidak berkurban, maka jangalah ia datang
ke tempat shalat kami.” (H.R. Ahmad).
Dalam perintah pelaksanaan ibadah
kurban, terdapat beberapa makna penting yang harus kita perhatikan, sebagai
acuan tentang sejauh mana kesungguhan kita dalam berkurban.
Pertama,dilihat dari asal katanya, Qurban memiliki makna dekat. Dengan demikian ibadah
kurban merupakan salah satu usaha Muslim mendekatkan diri kepada Allah Swt. Kemauan dan kesungguhan dalam berkurban terkait pula dengan ketakwaan seseorang. Takwa inilah yang dinilai oleh Allah Swt. Hal ini sesuai dengan firman-Nya:
Artinya:
“Daging-dagingnya dan darahnya itu
sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah Swt. tetapi ketakwaan dari
kamulah yang dapat mencapainya.” (QS. Al-Hajj : 37).
Kedua, ibadah kurban merupakan salah satu bentuk syukur kita kepada Allah Swt. atas nikmat yang diterima
selama ini. Firman Allah Swt., “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu
nikmat yang banyak. Maka, dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.”
(QS. Al-Kautsar : 1 – 2)
Ketiga,
penyembelihan
hewan kurban merupakan salah satu bentuk kepedulian sesama dan indahnya berbagi, terutama yang kurang mampu melalui
pendistribusian daging kurban kepada mereka. Melalui pembagian daging kurban
diharapkan dapat tercipta kebersamaan dan mengeratkan tali persaudaraan antara Muslim dan manusia
secara keseluruhan.
Keempat, kurban yang dilakukan dengan
menumpahkan darah hewan adalah simbol agar orang berkurban menanggalkan
sifat-sifat kebinatangan yang melekat pada dirinya, misalnya sifat bengis,
licik, dan egoisme, dan lainnya. Begitu pula melalui kurban seorang Muslim diminta
menanggalkan penghambaan sesama makhluk, karena Islam hanya membenarkan
penghambaan kepada Allah Swt. Semua sifat yang buruk itu harus dijauhkan dari
kehidupan Muslim, kapan dan di mana pun.
Dalam pengertian lebih luas, upaya
mendekatkan diri kepada Allah Swt. Dalam kehidupan sehari-hari dapat dilakukan
dengan berkurban, bukan hanya dengan menyembelih hewan, tetapi bisa juga dalam
bentuk lain. Misalnya memberikan sebagian harta kita untuk kemashlahatan,
seperti membantu fakir miskin, membangun tempat ibadah, sarana pendidikan, dan
berbagai kepentingan umat lainnya. Nilai dan makna kurban di atas perlu
dimiliki setiap komponen bangsa untuk mengisi pembangunan ke depan dan guna
menumbuhkan solidaritas antarsesama anak bangsa. Ini perlu digarisbawahi karena
kini semakin langka saja orang yang mau berkurban untuk kepentingan orang lain.
Segenap redaksi mengucapkan Selamat Hari
Raya Idul Adha 1433 H. Semoga segala ibadah kita baik, bertakbir, haji,
berkurban, dan lainnya diterima oleh Allah Swt. sebagai amal ibadah yang akan
menjadi bekal kita untuk menghadapi hari kiamat kelak. Amin Ya Robbal ‘Alamin.
Referensi:
· Amalan dan Waktu yan Diberkahi oleh Dr. Nashir bin ‘Abdirrahman bin Muhammad al-Juda’i
· Lentera Hati oleh Muhammad Quraish Shihab
· Ensiklopedi Hikmah oleh Abdul Halim Fathani
Sumber gambar:
http://3.bp.blogspot.com/.../Hari+Raya+Korban+1433+H.png
http://3.bp.blogspot.com/.../Hari+Raya+Korban+1433+H.png






Yeay, update lagi. Semoga tetap posting ya. Yang penting rutin, setiap pekan ada postingan itu udah okeh. :-D Selamat Hari Raya Idul Adha. Wah share dong acara sateannya kemarin. :-D
BalasHapus