Latest Posts

Minggu, 21 Oktober 2012

Dzulhijjah, di Permulaannya


     Bulan Dzulhijjah kembali hadir di tengah-tengah kita saat ini. Dan beberapa hari lagi, Insya Allah kita akan bersama-sama merayakan salah satu hari raya kita, yakni Hari Raya Idul Adha. Bulan Dzulhijjah memiliki banyak sekali keutamaan. Misalnya, bulan Dzulhijjah merupakan satu dari empat bulan haram yang telah diagungkan dalam Al-Qur’an. Seperti yang disebutkan dalam firman-Nya:
     





Artinya:                                   
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan Haram…” (Q.S. Al-Ma’idah : 2)

Bulan-bulan haram yang dimaksud dalam ayat di atas yakni, bulan Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Selain itu, bulan Dzulhijjah masih memiliki banyak keutamaan lainnya. Salah satunya adalah keutamaan yang dimiliki pada sepuluh hari pertama di dalamnya, yang akan kita bahas berikut ini:

10 Hari Pertama di Bulan Dzulhijjah

Dalam Al-Qur’an Allah Swt. berfirman:



Artinya:
“Demi fajar, dan malam yang sepuluh. (Q.S. Al-Fajr : 1-2)


Mayoritas ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dalam ayat di atas adalah sepuluh hari pertama dari bulan Dzulhijjah. Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Katsir dan Ibnu Jarir ath-Thabari. Begitu juga yang terdapat dalam Tafsir Al-Mishbah juga menyatakan demikian. Akan tetapi ada juga pendapat yang menafsirkan bahwa “malam yang sepuluh” yang dimaksudkan dalam ayat di atas adalah sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan. Dan ada pula yang menafsirkannya sepuluh hari pertama bulan Muharram.

Sepuluh hari pertama dari bulan Dzulhijjah ini memiliki beberapa keutamaan dan keberkahan, diantaranya adalah sebagai berikut.

Pertama, beramal shalih pada sepuluh hari ini memiliki keutamaan yang lebih dibandingkan hari-hari lainnya. Hal ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dari Ibnu Abbas r.a. dari Nabi Saw., “Bahwa beliau bersabda:







Artinya:
“Tidak ada amal yang lebih utama daripada amal-amal yang dikerjakan pada sepuluh hari Dzulhijjah ini.’ Lalu para sahabat bertanya, “Tidak juga jihad?” Nabi menjawab, “Tidak juga jihad, kecuali seseorang yang keluar (untuk berjihad) sambil mempertaruhkan diri dan hartanya, lalu dia sama sekali tidak kembali dengan sesuatu apapun.” (H.R. Bukhari)

Hadits di atas juga dijadikan dasar disunnahkannya berpuasa pada sembilan hari pertama di bulan Dzulhijjah. Pada tanggal 10 Dzulhijjah diharamkan untuk berpuasa karena pada hari itu umat Islam merayakan Hari Raya Idul Adha.

Pada sepuluh hari pertama dari bulan Dzulhijjah ini juga disunnahkan untuk bertakbir. Hal ini sebagaimana hadits dalam Shahih Bukhari yang menguatkan hal ini: “Ibnu Umar dan Abu Hurairah r.a.  keluar menuju pasar pada hari-hari di sepuluh hari pertama Dzulhijjah ini sambil bertakbir, maka orang-orang ikut bertakbir dengan takbir keduanya.”

Kedua, keutamaan yang dikhususkan pada hari kesembilan yakni hari ‘Arafah. Dinamakan demikian karena pada hari itu, para jama’ah haji melaksanakan wukuf di ‘Arafah dan wukuf merupakan rukun utama dalam pelaksanaan ibadah haji dan menjadi pembeda antara haji dengan umrah. Oleh karena itu, hari ‘Arafah menjadi salah satu hari yang memiliki keutamaan dan keberkahan.

Di antara keutamaan hari ‘Arafah ialah Allah Swt. akan menggugurkan dosa-dosa selama dua tahun bagi orang yang berpuasa pada hari ‘Arafah. Hal ini sesuai dengan hadits:





Artinya:
“Dari Abu Qatadah al-Anshari r.a. bahwa Rasulullah Saw. pernah ditanya tentang puasa pada hari ‘Arafah, maka beliau Saw. bersabda, “(Puasa hari itu) menggugurkan dosa-dosa setahun yang lalu dan dosa-dosa setahun berikutnya.” (H.R. Muslim)

Puasa ‘Arafah yang dimaksud dalam hadits di atas, diperuntukkan bagi orang yang tidak menjalankan ibadah haji. Sebagaimana Nabi Saw., beliau berbuka ketika melaksanakan wukuf di ‘Arafah.

Ibnul Qayyim menjelaskan, “Berbukanya Rasulullah Sw. pada hari itu mengandung beberapa hikmah, di antaranya, memperkuat do’a di ‘Arafah. Selain itu, bahwa berbuka dari puasa yang wajib saja di saat perjalanan safar lebih utama (afdhal), maka apalagi dengan puasa yang hukumnya Sunnah…” Ibnul Qayyim melanjutkan, “Guru kami, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan bahwa hari ‘Arafah merupakan hari raya bagi mereka yang sedang berwukuf di ‘Arafah dikarenakan pertemuan mereka di sana, seperti pertemuan mereka di hari raya (yaumul Id), dan pertemuan ini hanya khusus bagi mereka yang berada di ‘Arafah saja, tidak bagi yang selain mereka…”

Selain itu, hari ‘Arafah juga memiliki keberkahan lainnya. Salah satunya adalah pada hari ‘Arafah banyak orang yang dibebaskan oleh Allah Ta’ala, Dia mendekat ke langit dunia dan membangga-banggakan para jamaah Haji di hadapan para Malaikat. Hal ini sesuai dengan hadits:
Dari ‘Aisyah r.a., ia berkata, Rasulullah Saw., bersabda:





Artinya:
“Tidak ada hari yang Allah lebih banyak membebaskan hamba-Nya dari adzab Neraka daripada hari ‘Arafah. Sesungguhnya Dia (pada hari itu) mendekat, kemudian membangga-banggakan mereka (para jama’ah Haji) di hadapan para Malaikat.” Lalu Dia bertanya, “Apa yang diinginkan oleh para jama’ah Haji itu?” (H.R. Muslim)

Dan dari Jabir bin ‘Abdillah r.a dia berkata, “Rasulullah Saw. bersabda, “Pada saat hari ‘Arafah sesungguhnya Allah turun ke langit dunia, lalu membangga-banggakan mereka (para jama’ah Haji) di hadapan para Malaikat, maka Allah berfirman, ‘Perhatikan hamba-hamba-Ku, mereka datang kepada-Ku dalam keadaan kusut berdebu dan tersengat teriknya matahari, datang dari segala penjuru yang jauh. Aku bersaksi kepada kalian (para Malaikat) bahwa Aku telah mengampuni mereka.’”

Ketiga, keutamaan yang terdapat pada hari ke sepuluh bulan Dzulhijjah, yaitu Idul Adha yang disebut juga yaumun Nahr. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Qurth r.a. dari Nabi Saw. bahwa beliau bersabda:



Artinya:
“Dan (inilah) suatu pemakluman dari Allah kepada manusia pada hari haji akbar…”
(Q.S. At-Taubah : 3)

Hari ini dinamakan Haji Akbar karena sebagian besar amalan-amalan manasik haji dilakukan pada hari ini, seperti menyembelih kurban, memotong rambut, melontar jumrah dan thawaf mengelilingi Ka’bah. Selain itu, pada hari yang penuh berkah ini, kaum Muslimin berkumpul untuk melaksanakan shalat Id dan mendengarkan khutbah hingga para wanita pun disyari’atkan agar keluar rumah untuk kepentingan ini. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim, bahwa Ummu ‘Athiyyah Nusaibah binti al-Harits r.a. berkata:







Artinya:
“Kami para wanita diperintahkan untuk keluar pada hari Id hingga kami mengeluarkan gadis dari pingitan. Juga mengajak keluar wanita-wanita yang sedang haidh, berada di belakang orang-orang. Mereka bertakbir dengan takbirnya, dan mereka berdo’a deng do’anya. Mengharapkan keberkahan dan kesucian dari hari yang agung ini.” (H.R. Muttafaq ‘Alaih)

Al-Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan tentang maksud dari kehadiran para wanita tersebut di hari ini, sehingga wanita-wanita berhalangan tidak luput dari perintah keluar untuk menghadirinya. Beliau berkata: “Maksud dari kehadiran mereka adalah menampakkan syi’ar Islam dengan memaksimalkan berkumpulnya kaum Muslimin, agar barakah hari yang mulia ini dapat meliputi mereka semua.”

Pada hari ini dan tiga hari berturut-turut setelahnya, yaitu pada hari-hari tasyriq, kaum Muslimin berlomba-lomba mendekatkan diri (bertaqarrub) kepada Allah Ta’ala melalui penyembelihan hewan kurban. Dan menyembelih hewan kurban merupakan sebuah syi’ar agung dari syi’ar-syiar Islam.

Sedikit tentang Haji Akbar…

Makna dari ِيَوْمَ الْحَجِّ الْاَكْبَر (hari haji akbar) yang tercantum dalam firman Allah Swt. surat At-Taubah ayat 3 terjadi perbedaan pendapat di antara ulama setelah sebelumnya ulama sepakat bahwa itu terjadi pada tahun kesembilan Hijriah pada hari pelaksanaan ibadah haji.

Pendapat populer dalam masyarakat yang memahami Haji Akbar hanya terjadi bila wukuf di ‘Arafah terjadi pada hari Jum’at. Namun, tidak ditemukan pendapat seorang ulama pun yang memahami makna Haji Akbar seperti pemahaman masyarakat umum itu.

Memang jatuhnya wukuf pada hari Jum’at merupakan satu keistimewaan, karena ketika itu berkumpul dua hari raya, yakni hari wukuf dan hari Jum’at apalagi Haji Wada’ yang dilaksanakan oleh Nabi Muhammad Saw. pun bertepatan wukufnya dengan hari Jum’at. Dan memang ditemukan juga riwayat yang menyatakan bahwa: “Seutama-utama hari adalah hari ‘Arafah dan apabila ia bertepatan dengan hari Jum’at, maka (haji ketika itu) lebih utama daripada tujuh puluh haji yang wukufnya selain hari Jum’at.” Namun riwayat hadits ini dianggap lemah, karena dalam rangkaian periwayatannya terdapat nama Thalhah Ibnu ‘Ubaidillah, seseorang yang tidak pernah bertemu dengan Nabi Muhammad saw. Kalaupun haditsnya dapat diterima namun sekali lagi itu semua, tidak menjadikan apa yang dinamai Haji Akbar hanya yang wukufnya bertepatan dengan hari Jum’at.

Pada penjelasan sebelumnya, bahwa Haji Akbar jatuh pada tanggal 10 Dzulhijjah merupakan pendapat Imam Malik, ath-Thabari dan Bukhari. Sedangkan, Imam Syafi’i dan Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa Haji Akbar merupakan hari wukuf di ‘Arafah tanggal sembilan Dzulhijjah. Sufyan ats-Tsauri juga memiliki pendapat lain. Beliau berpendapat bahwa Haji Akbar dilaksanakan sepanjang hari-hari ibadah haji.

Kita pasti sering mendengar bahwa ibadah haji yang terlaksana pada bulan Dzulhijjah dinamai Haji Akbar (Haji Besar), sedang umrah yang dapat dilaksanakan sepanjang tahun, dinamai Haji Asghar (Haji Kecil). Seperti yang kita ketahui, semua pendapat di atas mengaitkan Haji Akbar dengan pelaksanaan ibadah haji, baik ia diartikan hari wukuf, atau lebaran/penyembelihan kurban maupun hari-hari pelaksanaan ibadah haji. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Haji Akbar terjadi di setiap tahun. ِوَاللهُ اَعْلَمُ بِالصَّوَاب


Referensi:
·         Amalan dan Waktu yang Diberkahi oleh Dr. Nashir bin ‘Abdirrahman bin Muhammad al-Juda’i
·         Tafsir Al-Mishbah vol. 5 oleh Muhammad Quraish Shihab

Sumber gambar : http://blondesearch.ru/img/d6/d68/Prolog.jpg






Continue Reading...

Minggu, 01 Januari 2012

MBOKIR (Mbolang sambil Dzikir) 2





Assalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakutuh

Apa kabar remaser? Apa kabar liburan kalian? Semoga masih tetap diberi semangat dan barokah oleh-Nya. Allahumma aamiin.

Kurang dari satu bulan yang lalu kita telah menghadapi masa evaluasi belajar kita di semester ganjil. Bagaimana? Bagaimana hasil belajar kalian di semester satu ini? Jika baik, maka berusahalah untuk mempertahankan. Jika kurang baik, maka..

Jangan bersedih, oh kawanku
Remas masih ada disini
Semua pasti kan berlalu
Remas kan slalu bersamamu
(edcoustic-jangan bersedih).

Yap, jangan sedih, wahai saudaraku. Masih ada waktu untuk memperbaikinya lagi. Keep HAMASAH :))

Seusai UAS, mbak kita tercinta, mbak Ira Wiranti mengajak kita untuk me-refresh pikiran kita, guna mengembalikan semngat juang kita sebagai Remaja Pecinta Masjid. Lalu bagaimana kelanjutan kisah mbokir kita? Simak terus kisahnya.

Pagi itu, Senin, 26 Desember 2011, masjid Roudlotul Ilmi cukup ramai oleh peserta mbokir. Sebuah bus mini dan angkot hitam-kuning sudah bertengger di depan gerbang SMA Negeri 1 Gresik. Persiapan kami sepertinya sudah cukup matang, namun semua peserta belum berkumpul. Ngaret, mengapa yang satu ini menjadi kebiasaan buruk? Yang awalnya jadwal kita berangkat pukul 07.00, berkat ngaret, setngah jam kemudian barulah kita berangkat.



Tak lupa berdo'a agar di beri keselamatan oleh Allah SWT, bus dan angkot melaju melalui tol Surabaya menuju Pondok Pesantren Al-Fitroh Kedinding. Perjalanan yang lama terasa cepat karena pihak bus memutarkan lagu-lagu Hadrah kebanggan kita.






Satu setengah jam kemudian, tibalah kami di Pondok Pesantren Al-Fitroh, untuk ziarah ke makam Kyai Rori. Suasana makam yang awalnya sepi, menjadi ramai. Rombongan Smansa duduk di tempat dekat makam. Arena pondok tak seramai biasanya, namun beberapa santri masih asik menikmati liburannya di pondok untuk bermain bola.



  Setelah ziarah, kami lanjutkan perjalanan menuju Lamongan, untuk ziarah ke makam Sunan Drajat. Kompleks pemakaman tidak banyak berubah. Jumlah pengemis di kompleks pemakaman-pun tidak berubah. Tetap seperti sediakala. Mereka bergerombol disekitar pedagang uang receh (pedagang yan bekerja untuk menukarkan uang receh). Ketika peziarah mendatangi pedagang uang receh, para pengemis segera mendekat pada peziarah terebut. Entah apakah ini merupakan sebuah startegi yag telah direncanakan sebelumnya atau memang begitulah trik mereka. Yang terpenting adalah syukur kita karena rezeki telah Allah berikan tanpa harus bersusah payah untuk mengemis sekeping receh.


Sebagian dari kemi yang sedang berhalangan, mencoba untuk masuk ke dalam musium Sunan Drajat. Sebuah bedug besar menyambut pendatang musium. Di dalam musium tersebut terdapat barang-barag peninggalan Sunan Drajat. Seperti Al-Qur'an, kain batik, kursi goyang dan lain sebagainya. Usai berziarah kami melanjutkan perjalanan ke Tuban, menuju makam Sunan Bonanng.


  Sepertinya ada yang baru di kompleks makam ini. Ya, satu tahun yang lalu kompleks pemakaman Sunan Bonang belumdi beri ubin di sekitarnya. Namun sekarang ubin coklat muda telah di pasang di sekeliling makam Sunan Bonang. Mungkin karena faktor jumlah peziarah yang kian meningkat.

  Adzan Ashar berkumandang, segera kami transit di Masjid Agung Tuban untuk jama' ta'khir Dzuhur-Ashar. Lokasi masjid tidak jauh dari pemakaman. Hanya butuh jalan kaki beberapa meter saja kita akan sampai di masjid tersebut.  Maha Suci Allah, masjid ini terlihat begitu indah, lebih indah dari satu tahun yang lalu. Bukan karena arsitektur maupun perpaduan warna kulitnya, namun karena cuaca hari ini lebih baik dari satu tahun yang lalu.


  Keindahan dan kemegahan masjid ini menarik banyak perhatian wisatawan. Aksi narsis yang tak terlupakan. Seusai shalat kita berfoto-foto ria di depan masjid cantik ini. Setelah puas, kami kembali ke tempat parkir bus. Sebagian besar menggunakan angkot, beberapa kembali dengan becak.


  Tujuan akhir kita, unknown beach. Pantai yang entah apa namanya, yang jelas pantainya bagus, hehe. Sesuatu terjadi ketika bus menuju ke pantai. Sopir yang awalnya mengatakan bahwa beliau tau lokasi pantai tersebut, ternyata beliau membawa kami ke tempat yang salah. Ya, pantai yang berbeda. Cukup panik, mbak Ira segera menghubungi pemegang jarkom pihak angkot. Pak Supir yang agak bingung di minta untuk kembali ke tempat parkir bus. Mas Najib dan Mas Sulthon di minta untuk menjemput kita di tempat parkir bus. Setelah menunggu cukup lama dan was-was, merekapun tiba. Akhirnya berangkatlah kita menuju uknown beach.

 Luasnya hamparan samudera biru tak berujung
Membuat rasa kagum dalam hati sanubari
Berarak awan putih, dibatas cakrawala
Pendarkan cahaya mentari
Camar yang beterbangan, ditemani sang angin
Meniupkan kesejukan, di sela pepohonan

Suara ombak laut yang memecah di pantai
Berdebur gemuruh menyanyikan lagu damai
Melambai nyiur hijau, di sepanjang tepian
Menjadi saksi setia
Keagungan Ilahi kebesaran tercipta
Dijaga disyukuri, selama-lamanya

Di pantai terasa damai, bebas, lepas, tak terbatas
Memandang mahakarya, yang tak akan ternilai harganya
Terbetik di jiwa, Allah yang mencipta segalanya
Sangat luar biasa Puji syukur pada-Nya
(Shaff-Fix_Pantai Suatu Maha Karya)

  Mahasuci Engkau Ya Rabb. Mempertemukan kami, melukis senyum pada bibir kami, menghadirkan canda tawa di tengah duka lara kami. Rabbi, hanya padaMu lah. Hanya karenaMu. OlehMu. Hanya Kau lah yang mampu menyatukan dan memisahkan kami.

Rabbi, izinkanlah persahabatan kami utuh dan tak terbatas oleh waktu. Allahumma Aamiin.


Continue Reading...

Double Party, Idul Adha 1432 H






Hari itu Senin, 7 November 2011 bertepatan dengan Hari Tasyrik pertama di Tahun 1433 H, lapangan bagian barat SMANSA Gresik ramai oleh suara kambing-kambing dan sapi.  Sementara itu warga SMANSA memenuhi bagian tengah lapangan untuk mengadakan peringatan Hari Raya Idul Adha. Tim Ar-Roudhoh telah siap dengan jas hijaunya beserta lagu-lagu hadrah untuk membuka acara tersebut.



Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar... Laa ilaaha illallahu Allahuakbar... Allahuakbar Wa lillahilhamd... Takbir berkumandang, waktu berasa milik para kambing dan sapi. Rupanya mereka telah siap mengantri giliran untuk di sembelih agar menjadi hewan tunggakan orang mukmin di akhirat kelak.

Setelah acara peringatan Idul Adha berakhir, saatnya para Remaser  menjalankan Double Party-nya.Sate Party dan Rujak Party. Anggota divisi Sosial telah mempersiapkan acara tersebut dengan begitu matang. Sayang, hal terpenting dalam aara tersebut justru terlupakan. Kami lupa mengambil jatah daging kambing untuk remas pada pihak osis. Alhasil, kami hanya mendapatkan daging sapi. Tak ada daging kambing, daging sapi pun jadi. Jadilah kami menggunakan daging sapi sebagai bahan dasar sate.


Semakin siang, suasana di sekitar Masjid Roudlotul 'Ulum semakin ramai. Para remaser bekerkja dengan suka-cita. Sebagian bekerja di depan panggangan ate. Sebagian menyiapkan buah-buahan dan bumbu rujak. Sebagian lagi asik menusukkan dadu daging kambing pada tusuk sate.




Potongan warna-warni buah di atas talam beserta aroma sate terasa begitu menggiurkan. Membuat lidah tak sabar untuk melahapnya. Ba'da dzuhur, kami berebut untuk mendapatkan sate dan rujak buah. Tradisi talaman tidak terlupakan.




Waktu seakan-akan berhenti ketika kebahagiaan menyelimuti persaudaraan kami. Rabbi, ijinkanlah persaudaraan kami utuh tanpa terbatas oleh waktu. Aamiiin
Continue Reading...

Minggu, 06 November 2011

Hikmah di Balik Idul Adha


Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Wah, wah, wah…. Lagi-lagi kami terlambat posting. Kami minta maaf banget. Pasti semuanya udah pada nunggu apa artikel berikutnya. OK, langsung aja kita sedikit sharing seputar Idul Adha, mumpung saat ini kita masih dalam suasana hari raya Idul Adha. Langsung aja, “Let’s check it out”.


Hari Raya Idul Adha memiliki kisah tersendiri tentang asal mula pelaksanaannya. Semuanya pasti udah tahu bagaimana kisahnya, bukan? Mmm… mungkin ada yang belum tahu, jadi kami ceritakan dulu secara ringkas berikut ini.

Tahun itu, usia Nabi Ismail as. baru 7 tahun (sebagian pendapat menyatakan 13 tahun). Pada malam ke-8 bulan Dzulhijjah, Nabi Ibrahim as. bermimpi. Beliau mendengar perintah menyembelih Nabi Ismail as. melalui mimpi tersebut.

Keesokan harinya, Beliau berpikir dan merenungkan mengenai arti mimpi beliau semalam. Darimanakah datangnya mimpi itu? Dari Allah ataukah setan? Nah, itulah sebabnya tanggal 8 Dzulhijjah kita kenal dengan hari Tarwiyah. Tarwiyah memiliki arti berpikir atau merenung.

Pada malam ke-9 Dzulhijjah, beliau kembali bermimpi. Dan pada pagi harinya, akhirnya Beliau tahu dan yakin bahwa mimpinya dari Allah SWT. Dari sinilah hari ke-9 Dzulhijjah kita sebut sebagai hari ‘Arafah. ‘Arafah artinya mengetahui, dan bertepatan pula pada waktu itu Beliau sedang berada di tanah Arafah.

Keesokan harinya Beliau bersama putranya berangkat menuju ke suatu lembah di daerah Mina dengan membawa tali dan sebilah pedang. Sesampainya di Mina, Nabi Ibrahim AS berterus terang kepada putranya, seperti yang terdapat dalam Al-Qur’an surat Ash-Shâffât ayat 102, yang artinya: “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar."

Ketika akan disembelih, Ismail berpesan kepada ayahnya, “Wahai ayahanda! Ikatlah tanganku agar aku tidak bergerak-gerak sehingga merepotkan. Telungkupkanlah wajahku agar tidak terlihat oleh ayah, sehingga tidak timbul rasa iba. Singsingkanlah lengan baju ayah agar tidak terkena percikan darah sedikitpun sehingga bisa mengurangi pahalaku, dan jika ibu melihatnya tentu akan turut berduka.”

“Tajamkanlah pedang dan goreskan segera dileherku ini agar lebih mudah dan cepat proses mautnya. Lalu bawalah pulang bajuku dan serahkan kepada agar ibu agar menjadi kenangan baginya, serta sampaikan pula salamku kepadanya dengan berkata, ‘Wahai ibu! Bersabarlah dalam melaksanakan perintah Allah.’ Terakhir, janganlah ayah mengajak anak-anak lain ke rumah ibu sehingga ibu sehingga semakin menambah belasungkawa padaku, dan ketika ayah melihat anak lain yang sebaya denganku, janganlah dipandang seksama sehingga menimbulkan rasa sedih di hati ayah,” sambung Isma'il.

Setelah mendengar pesan-pesan putranya itu, Nabi Ibrahim AS menjawab, “Sebaik-baik kawan dalam melaksanakan perintah Allah SWT adalah kau, wahai putraku tercinta!” Kemudian Beliau memulai untuk menyembelih anaknya, namun gagal meskipun dicoba beberapa kali. Singkat cerita, kemudian Allah SWT. menggantinya dengan sembelihan yang besar seperti yang terdapat dalam surat Ash-Shâffât ayat 106-107, yang artinya, “Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”

Hikmah yang dapat kita ambil dalam kisah tersebut, diantaranya :
1.      Sabar
Kisah tersebut menggambarkan kesabaran yang dimiliki oleh Nabi Ibrahim as. dan Nabi Ismail as. dalam menjalankan perintah dari Allah SWT. Kesabaran ini perlu kita contoh. Dan hal ini membuktikan bahwa pernyataan “sabar itu ada batasnya” merupakan pernyataan yang salah kaprah. Karena sebenarnya, sabar itu tak ada batasnya. Tetapi, pikiran kitalah yang membenarkan pernyataan tersebut hingga mempengaruhi kehidupan kita.
2.      Pengorbanan
Kisah tersebut menunjukkan pengorbanan yang amat besar dari hamba kepada Sang Khaliq. Nabi Ibrahim as. rela mengorbankan anaknya, Nabi Ismail as. yang selama ini ia inginkan pada saat anaknya berusia sangat muda. Begitu juga dengan Nabi Ismail as. yang rela mengorbankan dirinya disembelih untuk memenuhi perintah Allah. Suatu akhlak mulia yang mesti kita teladani. “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS. Ali Imran : 92)
3.      Keikhlasan dan ketaatan kepada Allah SWT.
Kisah tersebut menunjukkan keikhlasan yang amat mendalam dalam rangka menjalankan perintah Allah sebagai bukti ketaatan hamba kepada Allah SWT., Sang Pemilik Kehidupan. Keikhlasan ini amat kita perlukan dalam menunaikan ibadah kepada Allah. Karena amal baik tanpa dilandasi keikhlasan dan ketaatan kepada Allah SWT., hanya sia-sia saja dikerjakan. Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya. (QS. An-Nuur : 39)

Kawan, kisah ini menjadi artikel kami yang terakhir untuk minggu ini. Semoga, kami bisa memberikan informasi menarik lainnya minggu depan. Amin…
Terima kasih, udah menjadi teman setia kami….
Kami selalu menunggu kehadiranmu….
Sampai jumpa, minggu depan.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Continue Reading...

TITAN



Assalamu’alaikum Wr. Wb

Udah lihat artikel sebelumnya atau belum? Selamat datang di artikel kami yang kedua edisi minggu ini. Artikel kali ini akan membahas mengenai TITAN yang menjadi materi muhadloroh dari demisioner hari Jum’at, 28 Oktober 2011 silam. Tahu nggak apa arti dari demisioner? Menurut kamus Bahasa Indonesia, demisioner berarti orang yang telah meletakkan jabatan, tetapi masih tetap bekerja selama menantikan penggantinya. Nah, dalam Remas RU, demisioner dijabat oleh kelas 12 yang selalu mengawasi kami dan membimbing kami dalam membangun sebuah keluarga dalam organisasi (kok jadi curhat, ya.. Hehehe…). Udah tahu apa arti dari TITAN? Daripada penasaran, mending langsung aja kita bahas yuk artikel berikut ini.

Judul lengkapnya sih tak hanya TITAN, tetapi “Mengambil TITAN dari Rasulullah SAW”. Sebenarnya apa sih TITAN itu? TITAN merupakan akronim dari 5 kata sifat yang termasuk sifat Rasulullah SAW. Mau tahu sifat apa sajakah itu, mari kita bahas satu persatu:
1.    T = Tegas
Tegas tak sama dengan kasar ataupun marah. Tegas bermakna jelas atau terang. Penyebab kita tidak tegas diantaranya, karena kurang percaya diri, mudah terpengaruh, kurang teguh dalam memiliki prinsip. Terus, bagaimana kita bisa menjadi tegas? Berikut ini adalah langkah-langkah yang disampaikan oleh demisioner:
a.    Tentukan visi, misi dan prinsip.
Prinsip bagaikan akar pada tanaman. Bagaimana mungkin tanaman dapat berdiri kokoh jika memiliki akar yang rapuh? Begitu juga dengan kita. Oleh karenanya, milikilah prinsip dalam hidup dan peganglah erat-erat agar hidup kita tak mudah goyah.
b.    Buatlah daftar prioritas.
Daftar prioritas akan membantu kita menentukan apa yang akan kita kerjakan. Sehingga kegiatan kita menjadi terarah, dan hidup kita dapat berjalan sesuai dengan prinsip yang dimiliki.
c.    Berkomitmen.
Komitmen diperlukan untuk melaksanakan prinsip kita. Jika kita tak mampu berkomitmen dengan apa yang telah kita tentukan sendiri, maka kita akan mudah terpengaruh.
2.    I  = Ikhlas
Ikhlas memiliki makna yaitu mengerjakan sesuatu kebaikan tanpa mengharapkan imbalan maupun pujian dari orang lain, melainkan semata-mata untuk mengharapkan ridlo dari Allah SWT.
3.    T = Terbuka
Sikap terbuka merupakan perhiasan bagi insan yang memilikinya. Akan tetapi, kita perlu berhati-hati dalam menerapkannya. Pilihlah orang yang tepat, agar tak menyesal di kemudian hari. Dan tempat yang paling tepat untuk terbuka adalah kepada Allah SWT., pemilik kehidupan ini. Sikap terbuka juga dapat direalisasikan dengan saling memberi nasihat kepada sesama, sebagai salah satu usaha amar ma’ruf nahi mungkar.
   ð  Cara menerima nasihat yang baik, diantaranya adalah:
a.    Menyadari kekurangan diri dan bersedia untuk memperbaikinya.
Orang-orang di sekitar kita bagaikan sebuah cermin. Saat kita menerima nasihat dari mereka, maka perlakukanlah hal yang serupa dengan saat kita bercermin. Saat kita bercermin, jika kita menemukan sesuatu yang berantakan misalnya rambut, maka yang kita lakukan adalah merapikannya bukan malah memecahkan cerminnya, kan? Begitu pula saat kita memperoleh nasihat, maka kita harus segera memperbaikinya dan menyadari bahwa kita bukanlah makhluk yang bebas dari salah dan dosa.
b.    Cari dan tanya.
Setiap orang pasti mempunyai kekurangan masing-masing. Kita harus mencarinya bahkan menanyakan kepada orang lain agar kekurangan tersebut dapat segera diperbaiki. Agar lebih adil, kita dapat saling nasihat-menasihati dengan orang lain seperti yang telah difirmankan oleh Allah SWT. dalam surat Al-‘Ashr ayat 3.
c.    Syukur.
Jika ada orang yang memberikan nasihat kepada kita, maka syukurilah dan kita harus berterima kasih kepadanya. Kita patut bersyukur karena masih ada orang yang peduli terhadap diri kita.
d.    Persiapkan diri menghadapi kenyataan.
Terkadang nasihat disampaikan menyakiti hati kita karena kata-katanya yang kasar ataupun caranya yang kurang sopan. Kita harus sabar dalam menerimanya dan menyikapinya dengan baik, karena semua dilakukan demi kebaikan kita juga.
e.    Perbaiki diri.
Ketika kita dikoreksi oleh orang lain, langkah yang paling baik setelahnya adalah memperbaiki kekurangan kita bukan malah membela diri bahkan membalas.
   ð  Adab memberi nasihat adalah sebagai berikut:
a.    Niat yang baik
Semua yang kita lakukan tergantung pada niatnya. Niat yang baik, insya Allah memperoleh hasil yang baik pula.
b.    Cara yang baik
Cara yang baik dalam memberi nasihat adalah kata-kata yang kita ucapkan harus tak menyinggung bahkan menyakiti hati orang lain, dan jangan membuat ia malu di depan umum.
c.    Suri tauladan yang baik
Sebelum kita memberi nasihat kepada orang lain, koreksi terlebih dahulu apakah kita sudah melaksanakannya. Jangan sampai kita memberi nasihat kepada orang lain, akan tetapi kita sendiri melalaikannya.
d.    Jangan marah jika nasihat kita tak didengan atau tidak dilaksanakan
Jika kita memiliki niat yang baik dan ikhlas dalam memberi nasihat, kita tak mungkin marah jika nasihat kita tak didengar atau tak dilaksanakan. Justru kita menanyakan pada diri kita sendiri, “apakah caraku masih salah?” atau “apakah perkataanku tadi sudah sesuai dengan kondisiku saat ini?”.
4.    A = Amanah
Amanah memiliki arti dapat dipercaya. Sedangkan lawannya adalah khianat. Khianat merupakan salah satu ciri-ciri orang yang munafik. Amanah merupakan salah satu sifat penting yang harus dimiliki oleh pemimpin termasuk kita. Dari masing-masing dari kita adalah seorang pemimpin.
5.    N = Ngregani
Ngregani atau dalam bahasa Indonesia kita kenal dengan menghargai maksudnya menghargai orang lain. Jika kita ingin dihargai oleh orang maka kita harus menghargai orang lain terlebih dahulu.
Nah, sekarang udah nggak penasaran lagi kan apa itu TITAN. Oh ya, untuk sekedar info muhadloroh yang ditampilkan oleh demisioner menuai applause yang amat meriah dan pujian dari Pembina, lho! Karena, demisioner berhasil membawakannya dengan baik dan menarik sehingga waktu 90 menit tak terasa berlalu. Selain itu, demisioner telah berhasil memberikan inovasi baru dalam penampilan muhadloroh. Kita beri applause yuk…! Selamat untuk demisioner.

Selanjutnya, ada artikel terakhir kami minggu ini yang selalu menanti kehadiran Anda untuk membacanya.

Terima kasih, ya udah mau nongkrong di blog ini. Kunjungan Anda amat berarti bagi kami sebagai penyemangat kami. Kritik dan saran amat kami harapkan dari Anda…

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Continue Reading...

Sabtu, 05 November 2011

Buletin Al-Bayan edisi 30 tahun 2011

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Udah lama ya, STAR nggak posting… Kali STAR hadir dengan kepengurusan baru, Remas dengan nama baru, masjid dengan nama baru, dan yang tak kalah pentingnya blog dengan alamat baru… Sebelumnya, kami minta maaf karena postingnya terlambat satu hari… Oh ya, kami mengucapkan, “SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA 1432 H". Semoga momen penting ini dapat meningkatkan rasa sosial dan kebersamaan kita serta ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Amiin.

Mmm… Daripada kita ngobrol ke sana ke mari nggak jelas, mending langsung kita tengok apa yang akan kita bahas minggu ini.

Artikel pertama untuk minggu ini bersumber dari buletin Al-Bayan edisi 30 tahun 2010. Sebenarnya buletin ini sudah lama diterbitkan, dan datanya baru kami temukan sekitar sebulan yang lalu. Penasaran, materi apakah yang akan dibahas dalam buletin tersebut? Langsung aja kita simak pada artikel berikut ini:


Coz You Are So Special

Materi yang dibahas dalam buletin ini adalah mengenai hari Jum’at. Apakah ada yang spesial dengan hari Jum’at? Kalo iya, apa yang harus kita lakukan untuk menyambutnya? Semuanya akan dibahas secara ringkas dan jelas dalam buletin edisi ini. Ada juga info islami menarik lainnya. So, jangan lewatkan ya…! Buletinnya dapat didownload secara gratis lewat link berikut ini:
Buletin Al-Bayan edisi 30 tahun 2010.pdf
Buletin Al-Bayan edisi 30 tahun 2010 in doc.rar

Nah, itulah artikel pertama kami minggu ini. Kalo masih punya waktu luang ayo ikuti kami. Karena petualangan masih terus berlanjut. Masih ada dua artikel lagi yang belum kita jelajahi, hehehe....
Terus kunjungi blog kami ya....
Semoga bermanfaat....
Dan terima kasih atas kunjungan Anda....

Wassalamu'alaikum Wr. Wb. 
Continue Reading...

Sabtu, 10 September 2011

LKL 2010-2011


Bismillahirrahmanirrahim..
          Saya ingin sedikit menulis tentang LKL tahun 2011 ini. Mungkin ini agak telat. Tapi nggak papa, untuk mengenang jasa para panitia LKL beserta kru ulul albab yang berpartisipasi  fisik maupun batin.

          "LKL.. cahaya hati mencari remaser sejati"

          Apa tujuan LKL? Mengapa harus ada LKL, padahal sudah ada LKA?

Pertanyaan diatas telah saya sampaikan ke beberapa panitia LKL, demisioner  dan ulul albab. Inilah jawaban mereka:
1. Mas Ainul Yaqin: tujuan LKL ya untuk mengenalkan  lebih jauh ke remasnya.kenapa harus ada LKL? Karena di remas itu nggak ada peraturan yang mengikat. Remas itu butuh hi-loyality. Jadi untuk membuat itu, LKA aja nggak cukup.
2. Mbak Aulia Baratuzzakiyah: namanya aja LKL, latihan kepemimpinan lanjutan. Maksudnya buat benar-benar nyiapin+membekali adek-adek biar siap menjadi pengurus. Kalo LKA kan Cuma buat istilahnya memperkenalkan, ini lho remas itu.
3. Mas Muhammad Iqbal: ibarat orang yang menanam padi, nggak bisa langsung dimasukkan tanah(kalau bisapun hasilnya nggak maksimal). Harus disemaikan terlebih dahulu sebelum ditanam. Kenapa harus disemai? Padahal dari pabriknya sudah diberi obat-obatan. Meski sudah ada obatnya pun, belum tentu bibit padi tadi bisa bisa menyesuaikan dengan kondisi taah sawah yang lebih keras daripada tanah laboratorium.
Continue Reading...