Minggu, 06 November 2011

Hikmah di Balik Idul Adha


Assalamualaikum Wr. Wb.

Wah, wah, wah…. Lagi-lagi kami terlambat posting. Kami minta maaf banget. Pasti semuanya udah pada nunggu apa artikel berikutnya. OK, langsung aja kita sedikit sharing seputar Idul Adha, mumpung saat ini kita masih dalam suasana hari raya Idul Adha. Langsung aja, “Let’s check it out”.


Hari Raya Idul Adha memiliki kisah tersendiri tentang asal mula pelaksanaannya. Semuanya pasti udah tahu bagaimana kisahnya, bukan? Mmm… mungkin ada yang belum tahu, jadi kami ceritakan dulu secara ringkas berikut ini.

Tahun itu, usia Nabi Ismail as. baru 7 tahun (sebagian pendapat menyatakan 13 tahun). Pada malam ke-8 bulan Dzulhijjah, Nabi Ibrahim as. bermimpi. Beliau mendengar perintah menyembelih Nabi Ismail as. melalui mimpi tersebut.

Keesokan harinya, Beliau berpikir dan merenungkan mengenai arti mimpi beliau semalam. Darimanakah datangnya mimpi itu? Dari Allah ataukah setan? Nah, itulah sebabnya tanggal 8 Dzulhijjah kita kenal dengan hari Tarwiyah. Tarwiyah memiliki arti berpikir atau merenung.

Pada malam ke-9 Dzulhijjah, beliau kembali bermimpi. Dan pada pagi harinya, akhirnya Beliau tahu dan yakin bahwa mimpinya dari Allah SWT. Dari sinilah hari ke-9 Dzulhijjah kita sebut sebagai hari ‘Arafah. ‘Arafah artinya mengetahui, dan bertepatan pula pada waktu itu Beliau sedang berada di tanah Arafah.

Keesokan harinya Beliau bersama putranya berangkat menuju ke suatu lembah di daerah Mina dengan membawa tali dan sebilah pedang. Sesampainya di Mina, Nabi Ibrahim AS berterus terang kepada putranya, seperti yang terdapat dalam Al-Qur’an surat Ash-Shâffât ayat 102, yang artinya: “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar."

Ketika akan disembelih, Ismail berpesan kepada ayahnya, “Wahai ayahanda! Ikatlah tanganku agar aku tidak bergerak-gerak sehingga merepotkan. Telungkupkanlah wajahku agar tidak terlihat oleh ayah, sehingga tidak timbul rasa iba. Singsingkanlah lengan baju ayah agar tidak terkena percikan darah sedikitpun sehingga bisa mengurangi pahalaku, dan jika ibu melihatnya tentu akan turut berduka.”

“Tajamkanlah pedang dan goreskan segera dileherku ini agar lebih mudah dan cepat proses mautnya. Lalu bawalah pulang bajuku dan serahkan kepada agar ibu agar menjadi kenangan baginya, serta sampaikan pula salamku kepadanya dengan berkata, ‘Wahai ibu! Bersabarlah dalam melaksanakan perintah Allah.’ Terakhir, janganlah ayah mengajak anak-anak lain ke rumah ibu sehingga ibu sehingga semakin menambah belasungkawa padaku, dan ketika ayah melihat anak lain yang sebaya denganku, janganlah dipandang seksama sehingga menimbulkan rasa sedih di hati ayah,” sambung Isma'il.

Setelah mendengar pesan-pesan putranya itu, Nabi Ibrahim AS menjawab, “Sebaik-baik kawan dalam melaksanakan perintah Allah SWT adalah kau, wahai putraku tercinta!” Kemudian Beliau memulai untuk menyembelih anaknya, namun gagal meskipun dicoba beberapa kali. Singkat cerita, kemudian Allah SWT. menggantinya dengan sembelihan yang besar seperti yang terdapat dalam surat Ash-Shâffât ayat 106-107, yang artinya, “Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”

Hikmah yang dapat kita ambil dalam kisah tersebut, diantaranya :
1.      Sabar
Kisah tersebut menggambarkan kesabaran yang dimiliki oleh Nabi Ibrahim as. dan Nabi Ismail as. dalam menjalankan perintah dari Allah SWT. Kesabaran ini perlu kita contoh. Dan hal ini membuktikan bahwa pernyataan “sabar itu ada batasnya” merupakan pernyataan yang salah kaprah. Karena sebenarnya, sabar itu tak ada batasnya. Tetapi, pikiran kitalah yang membenarkan pernyataan tersebut hingga mempengaruhi kehidupan kita.
2.      Pengorbanan
Kisah tersebut menunjukkan pengorbanan yang amat besar dari hamba kepada Sang Khaliq. Nabi Ibrahim as. rela mengorbankan anaknya, Nabi Ismail as. yang selama ini ia inginkan pada saat anaknya berusia sangat muda. Begitu juga dengan Nabi Ismail as. yang rela mengorbankan dirinya disembelih untuk memenuhi perintah Allah. Suatu akhlak mulia yang mesti kita teladani. “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS. Ali Imran : 92)
3.      Keikhlasan dan ketaatan kepada Allah SWT.
Kisah tersebut menunjukkan keikhlasan yang amat mendalam dalam rangka menjalankan perintah Allah sebagai bukti ketaatan hamba kepada Allah SWT., Sang Pemilik Kehidupan. Keikhlasan ini amat kita perlukan dalam menunaikan ibadah kepada Allah. Karena amal baik tanpa dilandasi keikhlasan dan ketaatan kepada Allah SWT., hanya sia-sia saja dikerjakan. Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya. (QS. An-Nuur : 39)

Kawan, kisah ini menjadi artikel kami yang terakhir untuk minggu ini. Semoga, kami bisa memberikan informasi menarik lainnya minggu depan. Amin…
Terima kasih, udah menjadi teman setia kami….
Kami selalu menunggu kehadiranmu….
Sampai jumpa, minggu depan.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar