Minggu, 11 November 2012

Seorang Perempuan Kata-katanya Al-Qur’an


Abdullah bin al-Mubarak menuturkan bahwa ketika pergi haji ke Baitulah al-Haram dan berziarah ke masjid Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam di Madinah, ia berjumpa dengan seorang perempuan tua memakai kerudung wol.

Ibnu Mubarak berkata, “Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.”

Perempuan tua itu menjawab, “Salam sejahtera, sebagai ucapan selamat dari Rabb yang Maha Penyanyang.” (QS. Yaasin : 58)

Ibnu Mubarak berkata, “Semoga Allah merahmati engkau. Apa yang engkau lakukan di tempat ini?”

Perempuan tua itu menjawab, “Barang siapa yang Allah sesatkan maka tidak ada baginya petunjuk jalan.” (QS. Al-A’raf : 186). Mendengar jawabannya, Ibnu Mubarak paham bahwa ia tersesat di jalan. Lalu ia pun bertanya, “Kemana engkau hendak pergi?”

Perempuan tua itu menjawab, “Maha Suci Allah yang telah mengisra’kan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa.” (QS. Al-Isra’ : 1). Ia pun tahu bahwa perempuan ini telah selesai mengerjakan haji dan ingin kembali ke Baitul Maqdis (Palestina).

Ibnu Mubarak berkata, “Sejak berapa lama engkau di tempat ini?”

Perempuan tua itu menjawab, “Tiga malam berturut-turut.” (QS. Maryam : 10)

Ibnu Mubarak berkata, “Aku tidak melihat makanan bersamamu, lalu engkau makan apa?”

Perempuan tua itu menjawab, “Allah yang memberiku makan dan minum.” (QS. Asy-Syu’ara : 79)

Ibnu Mubarak berkata, “Sekarang bukan bulan Ramadhan!”

Perempuan tua itu menjawab, “Dan barang siapa mengerjakan kebajikan dengan kerelaan hati, maka, sesungguhnya Allah Maha Memberi pahala dan Maha mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 158)

Ibnu Mubarak berkata, “Kita diperbolehkan tidak puasa ketika dalam perjalanan.”

Perempuan tua itu menjawab, “Berpuasa itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 184)

Ibnu Mubarak berkata, “Mana air wudhumu?”

Perempuan tua itu menjawab, “Lalu jika tidak menemukan air maka bertayamumlah dengan debu yang baik.” (QS. An-Nisa : 43)

Ibnu Mubarak berkata, “Mengapa engkau tidak berbicara seperti bicaraku?”

Perempuan tua itu menjawab, “Tidakkah ada satu ucapan pun yang diucapkan kecuali ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf : 18)

Ibnu Mubarak berkata, “Manusia apa sebenarnya engkau ini?”

Perempuan tua itu menjawab, “Janganlah mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya itu akan dimintai tanggung jawab.” (QS. Al-Isra’ : 36)

Ibnu Mubarak berkata, “Aku telah melakukan kesalahan, maka berilah aku jalan keluar.”

Perempuan tua itu berkata, “Tidak perlu penyesalan bagi kalian hari ini, Allah pasti mengampuni kalian.” (QS. Yusuf : 92)

Ibnu Mubarak berkata, “Maukah engkau mengendarai untaku ini, agar dapat menyusul rombonganmu?”

Perempuan tua itu menjawab, “Kebaikan apa pun yang engkau lakukan, Allah pasti mengetahuinya.” (QS. Al-Baqarah : 197)

Ibnu Mubarak berkata, “Maka aku pun mendudukkan untaku.”

Perempuan tua itu berkata. “Katakan kepada orang-orang beriman, hendaknya mereka menundukkan pandangan mereka.” (QS. An-Nur : 30). Ibnu Mubarak pun lantas memalingkan pendangannya dari perempuan tua itu, lalu berkata, “Sekarang naiklah .” Namun ketika hendak naik, unta itu tiba-tiba bangun lalu lari dan baju perempuan tua itu sobek.

Perempuan tua itu berkata, “Musibah apa pun yang menimpa kalian, itu adalah akibat dari perbuatan tangan kalian.” (QS. Asy-Syu’ara : 30)

Ibnu Mubarak berkata, “Bersabarlah, hingga aku dapat menjinakkan dan mengikat unta itu.”

Perempuan tua itu berkata, “Lalu Kami beri pengertian tentang hukum kepada Sulaiman.” (QS. Al-Anbiya’ : 79). Setelah dapat dikuasai lalu Ibnu Mubarak mengikat unta itu.

Ibnu Mubarak berkata, “Sekarang, naiklah.” Perempuan tua itu kemudian naik, dan berkata, “Maha suci Allah yang telah menundukkan semua ini untuk kami, padahal sebelumnya kami tidak mampu menguasainya dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami.” (QS. Az-Zuhruf : 13 – 14).

Lalu, Ibnu Mubarak pun memegang kendali untuanya dan memacu larinya sambil berteriak keras.

Perempuan tua itu berkata, “Dan sederhanakanlah jalanmu dan lunakkanlah suaramu, sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai.” (QS. Luqman : 19)

Ibnu Mubarak pun kemudian berjalan pelan-pelan sambil mendendangkan bait-bait syair.

Perempuan tua itu berkata, “Maka bacalah apa yang mudah bagimu dari Al-Qur’an.” (QS. Al-Muzammil : 20)
Ibnu Mubarak berkata, “Engkau telah dianugerahi kebaikan yang sangat banyak.”

Perempuan tua itu berkata, “Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran dari firman Allah.” (QS. Al-Baqarah : 269)

Ibnu Mubarak berkata, “Apakah engkau mempunyai suami?”

Perempuan tua itu menjawab, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah menanyakan sesuatu yang jika diterangkan kepada kalian niscaya akan menyusahkan kalian.” (QS. Al-Maidah : 101)

Ibnu Mubarak lalu diam, tidak mengajaknya bicara lagi hingga rombongannya terlihat dan ia dapat menyusulnya.

Ibnu Mubarak berkata, “Itukah kafilahmu? Siapa saudaramu di dalam kafilah itu?”

Perempuan tua itu menjawab, “Harta benda dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia.” (QS. Al-Kahfi : 46). Ibnu Mubarak mengerti bahwa perempuan tua ini mempunyai anak-anak.

Ibnu Mubarak berkata, “Bagaimana keadaan mereka pada waktu ibadah haji?”

Perempuan tua menjawab, “Dan Dia ciptakan tanda-tanda petunjuk jalan dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl : 16). Ibnu Mubarak mengerti jawabannya itu bahwa mereka menjadi penunjuk jalan dengan melihat kubah-kubah, bangunan-bangunan dan letak bintang.”

Ibnu Mubarak berkata, “Siapa yang ada di sana itu?”

Perempuan tua itu menjawab, “Dan Allah menjadikan Ibrahim kesayangan-Nya.” (QS. An-Nisa’ : 125) “Dan Allah berbicara kepada Musa secara langsung.” (QS. An-Nisa’ : 164) “Wahai Yahya, ambillah al-Kitab itu dengan sungguh-sungguh.” (QS. Maryam : 12) Lalu Ibnu Mubarak memanggil ketiga nama itu.

Ibnu Mubarak, “Hai Ibrahim, hai Musa, hai Yahya.” Segeralah para pemuda itu datang menyambut panggilannya, lalu mereka duduk berdekatan.

Perempuan tua itu berkata, “Maka suruhlah salah seorang diantara kalian pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini dan hendaklah ia lihat, manakah makanan yang lebih baik, lalu hendaklah ia membawa makanan itu untuk kalian.” (QS. Al-Kahfi : 19). Kemudian salah seorang diantara mereka pergi, lalu kembali dengan membawa makanan untuk dihidangkan kepadaku. Perempuan tua itu mempersilahkanku untuk makan sambil berkata, “Makanlah dan minumlah dengan nikmat sebagai balasan atas yang telah kalian kerjakan pada hari-hari yang telah lalu.” (QS. Al-Haqqah : 24). Setelah makan, Ibnu Mubarak memandang muka ketiga pemuda itu, karena rasa penasaran yang semakin menguat.

Dia berkata, “Aku ingin tahu tentang ibu kalian ini.” Mereka menjawab bahwa sejak empat puluh tahun yang lalu ia tidak berbicara selain dengan ayat-ayat al-Qur’an karena khawatir salah bicara.

Ibnu Mubarak berkata, “Itulah karunia Allah yang diberikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki dan Allah Mahaluas lagi Maha mengetahui.” (QS. Al-Maidah : 54)

Sumber :
1001 Kisah Teladan oleh Hani Al-Hajj

1 komentar:

  1. Mantap. eh kasih tau juga kegiatan yang diadain RRU dong di sini. rujak party misalnya, kerja bakti, ya just suggesting agar pengunjung bisa mengenal RRU lebih jauh. tapi kalo kayak gini secara rutin juga udah bagus sih. anyway, remove that shoutmix, it's paid now and error wile displayed in your website.

    BalasHapus