Latest Posts

Minggu, 28 Oktober 2012

Saat-Saat Bagimu Untuk Berbuka





Memasuki hari terakhir dari hari tasyrik ini, yakni tepat tanggal 13 Dzulhijjah, semoga artikel ini masih dapat bermanfaat bagi pembacanya meskipun sangat terlambat dalam mempublikasikannya.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------







Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tidak ada Tuhan melainkan Allah, Allah Maha Besar. Allah Maha Besar dan bagi Allah segala pujian.










Allah Maha Besar lagi sempurna Kebesaran-Nya, segala puji bagi-Nya dan Maha Suci Allah sepanjang pagi dan petang. Tiada Tuhan melainkan Allah dan tidak ada yang kami sembah kecuali hanya Allah, dengan ikhlas kami beragama kepada-Nya, walaupun orang-orang kafir membenci. Tidak ada Tuhan melainkan Allah sendiri-Nya, benar janji-Nya, dan Dia menolong akan hamba-Nya, dan Dia mengusir musuh Nabi-Nya dengan sendiri-Nya. Tiada Tuhan melainkan Allah dan Allah Maha Besar. Allah Maha Besar dan bagi Allah segala pujian.

Gema takbir telah berkumandang sejak tanggal 9 Dzulhijjah lalu, dengan puncaknya pada malam tanggal 10 Dzulhijjah hingga pelaksanaan penyembelihan hewan qurban usai. Takbir tersebut akan berkumandang hingga sampai akhir hari Tasyriq, yakni pada tanggal 13 Dzulhijjah. Ini merupakan pendapat yang dianut oleh kebanyakan ulama. Berikut ini, akan dibahas mengenai keutaman dan keberkahan hari-hari Tasyriq.

Hari-Hari Tasyriq

Hari tasyriq adalah tiga hari setelah hari raya Idul Adha, yakni pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Dalam sebuah referensi, hari-hari tersebut dinamakan hari tasyriq karena pada hari itu orang-orang mengeringkan atau mendendengkan dan menyebarkan daging kurban.

Allah Swt. berfirman:




Artinya:
“Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang.” (QS. Al-Baqarah : 203)

Menurut Ibnu ‘Abbas, “beberapa hari yang berbilang” yang disebutkan dalam ayat di atas adalah hari-hari tasyriq.

Salah satu keutamaan yang dimiliki hari-hari tasyriq adalah pada hari-hari tersebut dilaksanakan beberapa amalan manasik haji, seperti hari (mabit) di Mina, hari-hari melontar jumrah, hari-hari menyembelih hewan kurban dan lain sebagainya. Dan di antara hari-hari Tasyriq sendiri, maka hari yang paling utama adalah hari pertamanya, sebagaimana dalam hadits berikut:




Artinya:
“Hari yang paling agung di sisi Allah adalah hari ‘Idul Adha (yaumun Nahr) kemudian hari setelahnya (yaumul qarri).” (H.R. Abu Dawud)

Dinamakan yaumul qarri karena pada hari itu para jama’ah haji tengah berada di Mina dan berdiam diri di sana serta melontar jumroh.

Selain itu, hari-hari tasyriq merupakan hari-hari untuk makan dan minum serta memperbanyak dzikir kepada Allah Swt. Hal ini sesuai dengan hadits di dalam as-Sunan dari ‘Uqbah bin ‘Amir r.a. bahwa dia berkata, Rasulullah Saw. bersabda:




Artinya:
“Hari ‘Arafah, hari raya kurban (yaumun Nahr) dan hari-hari tasyriq merupakan hari raya kita pemeluk  Islam, dan dia merupakan hari-hari makan dan minum.” (H.R. Abu Dawud)


Dan, dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari hadits Nabisyah al-Hadzali r.a. ia berkata, Rasulullah Saw. bersabda, “Hari-hari tasyriq adalah hari-hari makan dan minum.” Dan dalam suatu riwayat dengan tambahan: “Dzikir kepada Allah.”

Kedua hadits ini menjadi dasar dilarangnya berpuasa di hari raya Idul Adha dan hari-hari tasyriq. Dalam hadits yang pertama disebutkan juga hari ‘Arafah. Untuk hari ‘Arafah yang disunnahkan untuk berpuasa adalah orang yang tidak melaksanakan ibadah haji, seperti yang telah dijelaskan dalam artikel sebelumnya.

Pada hari-hari tasyriq disyari’atkan untuk bertakbir sebagaimana dilakukan oleh para Sahabat r.a dan generasi Salaf yang datang setelah masa mereka (para Sahabat). Takbir ini juga merupakan salah satu bentuk dari berbagai bentuk dzikir kepada Allah Swt. Selain itu, juga masih diperbolehkan untuk melakukan penyembelihan hewan kurban, seperti yang telah diterangkan sebelumnya.

Sedikit Ulasan tentang Makna Kurban

Hari Raya Kurban sangat erat kaitannya dengan ibadah haji serta bentuk pengorbanan Nabi Ibrahim a.s. berabad-abad tahun yang lalu. Beliau adalah salah seorang Nabi dan Rasul Allah yang diagungkan. Beliau rela mengorbankan putra kesayangannya, Nabi Ismail a.s hanya karena Allah Swt.

Manusia telah mengenal kurban sejak dini, bahkan sejak putra-putra pertama Adam a.s. Pada masa Nabi Ibrahim dan sebelumnya, manusia seringkali menjadikan manusia sebagai kurban (sesajen) kepada tuhan-tuhan atau dewa-dewa yang mereka sembah.

Di Mesir, misalnya, gadis tercantik dipersembahkan kepada Dewi Sungai Nil. Sementara di Kanaan, Irak, bayi-bayi dipersembahkan kepada Dewa Baal. Suku Aztec di Meksiko lain lagi, mereka menyerahkan jantung dan darah manusia kepada Dewa Matahari. Di Eropa Utara, orang-orang Viking yang tadinya mendiami Skandinavia mengurbankan pemuka-pemuka agama mereka kepada Dewa Perang “Odin”.

Nabi Ibrahim a.s. hidup pada abad ke-18 SM, suatu masa ketika terjadi persimpangan jalan pemikiran kemanusiaan tentang kurban-kurban yang masih berwujud manusia. Di satu pihak ada yang mempertahankan dan di pihak lain ada pula yang beranggapan bahwa manusia terlalu mulia dan tinggi nilainya untuk dikurbankan kepada Zat yang disembah. Di sinilah ajaran yang dibawa oleh Nabi Ibrahim memberi jalan keluar yang memuaskan semua pihak. Beliau diperintahkan oleh Allah SWT melalui suatu mimpi untuk menyembelih anaknya sebagai isyarat bahwa anak tercinta bukanlah sesutau yang berarti jika Tuhan telah meminta. Tidak ada sesuatu yang dapat dinilai tinggi jika dihadapkan dengan perintah Tuhan.

Ibadah kurban hukumnya sunah muakad (sangat dianjurkan) bagi orang yang mampu secara materi. Ini seperti dijelaskan oleh Rasulullah Saw., “Barangsiapa memiliki kelapangan keuangan, lalu ia tidak berkurban, maka jangalah ia datang ke tempat shalat kami.” (H.R. Ahmad).

Dalam perintah pelaksanaan ibadah kurban, terdapat beberapa makna penting yang harus kita perhatikan, sebagai acuan tentang sejauh mana kesungguhan kita dalam berkurban.

Pertama,dilihat dari asal katanya, Qurban memiliki makna dekat. Dengan demikian ibadah kurban merupakan salah satu usaha Muslim mendekatkan diri kepada Allah Swt. Kemauan dan kesungguhan dalam berkurban terkait pula dengan ketakwaan seseorang. Takwa inilah yang dinilai oleh Allah Swt. Hal ini sesuai dengan firman-Nya:





Artinya:


“Daging-dagingnya dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah Swt. tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (QS. Al-Hajj : 37).



Kedua, ibadah kurban merupakan salah satu bentuk syukur kita kepada Allah Swt. atas nikmat yang diterima selama ini. Firman Allah Swt., “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka, dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.” (QS. Al-Kautsar : 1 – 2)



Ketiga, penyembelihan hewan kurban merupakan salah satu bentuk  kepedulian sesama dan indahnya berbagi, terutama yang kurang mampu melalui pendistribusian daging kurban kepada mereka. Melalui pembagian daging kurban diharapkan dapat tercipta kebersamaan dan mengeratkan tali persaudaraan antara Muslim dan manusia secara keseluruhan. 


Keempat, kurban yang dilakukan dengan menumpahkan darah hewan adalah simbol agar orang berkurban menanggalkan sifat-sifat kebinatangan yang melekat pada dirinya, misalnya sifat bengis, licik, dan egoisme, dan lainnya. Begitu pula melalui kurban seorang Muslim diminta menanggalkan penghambaan sesama makhluk, karena Islam hanya membenarkan penghambaan kepada Allah Swt. Semua sifat yang buruk itu harus dijauhkan dari kehidupan Muslim, kapan dan di mana pun. 

Dalam pengertian lebih luas, upaya mendekatkan diri kepada Allah Swt. Dalam kehidupan sehari-hari dapat dilakukan dengan berkurban, bukan hanya dengan menyembelih hewan, tetapi bisa juga dalam bentuk lain. Misalnya memberikan sebagian harta kita untuk kemashlahatan, seperti membantu fakir miskin, membangun tempat ibadah, sarana pendidikan, dan berbagai kepentingan umat lainnya. Nilai dan makna kurban di atas perlu dimiliki setiap komponen bangsa untuk mengisi pembangunan ke depan dan guna menumbuhkan solidaritas antarsesama anak bangsa. Ini perlu digarisbawahi karena kini semakin langka saja orang yang mau berkurban untuk kepentingan orang lain.

Segenap redaksi mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha 1433 H. Semoga segala ibadah kita baik, bertakbir, haji, berkurban, dan lainnya diterima oleh Allah Swt. sebagai amal ibadah yang akan menjadi bekal kita untuk menghadapi hari kiamat kelak. Amin Ya Robbal ‘Alamin.



Referensi:

·         Amalan dan Waktu yan Diberkahi oleh Dr. Nashir bin ‘Abdirrahman bin Muhammad al-Juda’i
·         Lentera Hati oleh Muhammad Quraish Shihab
·       Ensiklopedi Hikmah oleh Abdul Halim Fathani



Sumber gambar:
http://3.bp.blogspot.com/.../Hari+Raya+Korban+1433+H.png

  http://harisamumindunlop.files.wordpress.com/2012/10/sms-ucapan-selamat-idul-adha.jpg




















Continue Reading...

Minggu, 21 Oktober 2012

Dzulhijjah, di Permulaannya


     Bulan Dzulhijjah kembali hadir di tengah-tengah kita saat ini. Dan beberapa hari lagi, Insya Allah kita akan bersama-sama merayakan salah satu hari raya kita, yakni Hari Raya Idul Adha. Bulan Dzulhijjah memiliki banyak sekali keutamaan. Misalnya, bulan Dzulhijjah merupakan satu dari empat bulan haram yang telah diagungkan dalam Al-Qur’an. Seperti yang disebutkan dalam firman-Nya:
     





Artinya:                                   
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan Haram…” (Q.S. Al-Ma’idah : 2)

Bulan-bulan haram yang dimaksud dalam ayat di atas yakni, bulan Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Selain itu, bulan Dzulhijjah masih memiliki banyak keutamaan lainnya. Salah satunya adalah keutamaan yang dimiliki pada sepuluh hari pertama di dalamnya, yang akan kita bahas berikut ini:

10 Hari Pertama di Bulan Dzulhijjah

Dalam Al-Qur’an Allah Swt. berfirman:



Artinya:
“Demi fajar, dan malam yang sepuluh. (Q.S. Al-Fajr : 1-2)


Mayoritas ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dalam ayat di atas adalah sepuluh hari pertama dari bulan Dzulhijjah. Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Katsir dan Ibnu Jarir ath-Thabari. Begitu juga yang terdapat dalam Tafsir Al-Mishbah juga menyatakan demikian. Akan tetapi ada juga pendapat yang menafsirkan bahwa “malam yang sepuluh” yang dimaksudkan dalam ayat di atas adalah sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan. Dan ada pula yang menafsirkannya sepuluh hari pertama bulan Muharram.

Sepuluh hari pertama dari bulan Dzulhijjah ini memiliki beberapa keutamaan dan keberkahan, diantaranya adalah sebagai berikut.

Pertama, beramal shalih pada sepuluh hari ini memiliki keutamaan yang lebih dibandingkan hari-hari lainnya. Hal ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dari Ibnu Abbas r.a. dari Nabi Saw., “Bahwa beliau bersabda:







Artinya:
“Tidak ada amal yang lebih utama daripada amal-amal yang dikerjakan pada sepuluh hari Dzulhijjah ini.’ Lalu para sahabat bertanya, “Tidak juga jihad?” Nabi menjawab, “Tidak juga jihad, kecuali seseorang yang keluar (untuk berjihad) sambil mempertaruhkan diri dan hartanya, lalu dia sama sekali tidak kembali dengan sesuatu apapun.” (H.R. Bukhari)

Hadits di atas juga dijadikan dasar disunnahkannya berpuasa pada sembilan hari pertama di bulan Dzulhijjah. Pada tanggal 10 Dzulhijjah diharamkan untuk berpuasa karena pada hari itu umat Islam merayakan Hari Raya Idul Adha.

Pada sepuluh hari pertama dari bulan Dzulhijjah ini juga disunnahkan untuk bertakbir. Hal ini sebagaimana hadits dalam Shahih Bukhari yang menguatkan hal ini: “Ibnu Umar dan Abu Hurairah r.a.  keluar menuju pasar pada hari-hari di sepuluh hari pertama Dzulhijjah ini sambil bertakbir, maka orang-orang ikut bertakbir dengan takbir keduanya.”

Kedua, keutamaan yang dikhususkan pada hari kesembilan yakni hari ‘Arafah. Dinamakan demikian karena pada hari itu, para jama’ah haji melaksanakan wukuf di ‘Arafah dan wukuf merupakan rukun utama dalam pelaksanaan ibadah haji dan menjadi pembeda antara haji dengan umrah. Oleh karena itu, hari ‘Arafah menjadi salah satu hari yang memiliki keutamaan dan keberkahan.

Di antara keutamaan hari ‘Arafah ialah Allah Swt. akan menggugurkan dosa-dosa selama dua tahun bagi orang yang berpuasa pada hari ‘Arafah. Hal ini sesuai dengan hadits:





Artinya:
“Dari Abu Qatadah al-Anshari r.a. bahwa Rasulullah Saw. pernah ditanya tentang puasa pada hari ‘Arafah, maka beliau Saw. bersabda, “(Puasa hari itu) menggugurkan dosa-dosa setahun yang lalu dan dosa-dosa setahun berikutnya.” (H.R. Muslim)

Puasa ‘Arafah yang dimaksud dalam hadits di atas, diperuntukkan bagi orang yang tidak menjalankan ibadah haji. Sebagaimana Nabi Saw., beliau berbuka ketika melaksanakan wukuf di ‘Arafah.

Ibnul Qayyim menjelaskan, “Berbukanya Rasulullah Sw. pada hari itu mengandung beberapa hikmah, di antaranya, memperkuat do’a di ‘Arafah. Selain itu, bahwa berbuka dari puasa yang wajib saja di saat perjalanan safar lebih utama (afdhal), maka apalagi dengan puasa yang hukumnya Sunnah…” Ibnul Qayyim melanjutkan, “Guru kami, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan bahwa hari ‘Arafah merupakan hari raya bagi mereka yang sedang berwukuf di ‘Arafah dikarenakan pertemuan mereka di sana, seperti pertemuan mereka di hari raya (yaumul Id), dan pertemuan ini hanya khusus bagi mereka yang berada di ‘Arafah saja, tidak bagi yang selain mereka…”

Selain itu, hari ‘Arafah juga memiliki keberkahan lainnya. Salah satunya adalah pada hari ‘Arafah banyak orang yang dibebaskan oleh Allah Ta’ala, Dia mendekat ke langit dunia dan membangga-banggakan para jamaah Haji di hadapan para Malaikat. Hal ini sesuai dengan hadits:
Dari ‘Aisyah r.a., ia berkata, Rasulullah Saw., bersabda:





Artinya:
“Tidak ada hari yang Allah lebih banyak membebaskan hamba-Nya dari adzab Neraka daripada hari ‘Arafah. Sesungguhnya Dia (pada hari itu) mendekat, kemudian membangga-banggakan mereka (para jama’ah Haji) di hadapan para Malaikat.” Lalu Dia bertanya, “Apa yang diinginkan oleh para jama’ah Haji itu?” (H.R. Muslim)

Dan dari Jabir bin ‘Abdillah r.a dia berkata, “Rasulullah Saw. bersabda, “Pada saat hari ‘Arafah sesungguhnya Allah turun ke langit dunia, lalu membangga-banggakan mereka (para jama’ah Haji) di hadapan para Malaikat, maka Allah berfirman, ‘Perhatikan hamba-hamba-Ku, mereka datang kepada-Ku dalam keadaan kusut berdebu dan tersengat teriknya matahari, datang dari segala penjuru yang jauh. Aku bersaksi kepada kalian (para Malaikat) bahwa Aku telah mengampuni mereka.’”

Ketiga, keutamaan yang terdapat pada hari ke sepuluh bulan Dzulhijjah, yaitu Idul Adha yang disebut juga yaumun Nahr. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Qurth r.a. dari Nabi Saw. bahwa beliau bersabda:



Artinya:
“Dan (inilah) suatu pemakluman dari Allah kepada manusia pada hari haji akbar…”
(Q.S. At-Taubah : 3)

Hari ini dinamakan Haji Akbar karena sebagian besar amalan-amalan manasik haji dilakukan pada hari ini, seperti menyembelih kurban, memotong rambut, melontar jumrah dan thawaf mengelilingi Ka’bah. Selain itu, pada hari yang penuh berkah ini, kaum Muslimin berkumpul untuk melaksanakan shalat Id dan mendengarkan khutbah hingga para wanita pun disyari’atkan agar keluar rumah untuk kepentingan ini. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim, bahwa Ummu ‘Athiyyah Nusaibah binti al-Harits r.a. berkata:







Artinya:
“Kami para wanita diperintahkan untuk keluar pada hari Id hingga kami mengeluarkan gadis dari pingitan. Juga mengajak keluar wanita-wanita yang sedang haidh, berada di belakang orang-orang. Mereka bertakbir dengan takbirnya, dan mereka berdo’a deng do’anya. Mengharapkan keberkahan dan kesucian dari hari yang agung ini.” (H.R. Muttafaq ‘Alaih)

Al-Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan tentang maksud dari kehadiran para wanita tersebut di hari ini, sehingga wanita-wanita berhalangan tidak luput dari perintah keluar untuk menghadirinya. Beliau berkata: “Maksud dari kehadiran mereka adalah menampakkan syi’ar Islam dengan memaksimalkan berkumpulnya kaum Muslimin, agar barakah hari yang mulia ini dapat meliputi mereka semua.”

Pada hari ini dan tiga hari berturut-turut setelahnya, yaitu pada hari-hari tasyriq, kaum Muslimin berlomba-lomba mendekatkan diri (bertaqarrub) kepada Allah Ta’ala melalui penyembelihan hewan kurban. Dan menyembelih hewan kurban merupakan sebuah syi’ar agung dari syi’ar-syiar Islam.

Sedikit tentang Haji Akbar…

Makna dari ِيَوْمَ الْحَجِّ الْاَكْبَر (hari haji akbar) yang tercantum dalam firman Allah Swt. surat At-Taubah ayat 3 terjadi perbedaan pendapat di antara ulama setelah sebelumnya ulama sepakat bahwa itu terjadi pada tahun kesembilan Hijriah pada hari pelaksanaan ibadah haji.

Pendapat populer dalam masyarakat yang memahami Haji Akbar hanya terjadi bila wukuf di ‘Arafah terjadi pada hari Jum’at. Namun, tidak ditemukan pendapat seorang ulama pun yang memahami makna Haji Akbar seperti pemahaman masyarakat umum itu.

Memang jatuhnya wukuf pada hari Jum’at merupakan satu keistimewaan, karena ketika itu berkumpul dua hari raya, yakni hari wukuf dan hari Jum’at apalagi Haji Wada’ yang dilaksanakan oleh Nabi Muhammad Saw. pun bertepatan wukufnya dengan hari Jum’at. Dan memang ditemukan juga riwayat yang menyatakan bahwa: “Seutama-utama hari adalah hari ‘Arafah dan apabila ia bertepatan dengan hari Jum’at, maka (haji ketika itu) lebih utama daripada tujuh puluh haji yang wukufnya selain hari Jum’at.” Namun riwayat hadits ini dianggap lemah, karena dalam rangkaian periwayatannya terdapat nama Thalhah Ibnu ‘Ubaidillah, seseorang yang tidak pernah bertemu dengan Nabi Muhammad saw. Kalaupun haditsnya dapat diterima namun sekali lagi itu semua, tidak menjadikan apa yang dinamai Haji Akbar hanya yang wukufnya bertepatan dengan hari Jum’at.

Pada penjelasan sebelumnya, bahwa Haji Akbar jatuh pada tanggal 10 Dzulhijjah merupakan pendapat Imam Malik, ath-Thabari dan Bukhari. Sedangkan, Imam Syafi’i dan Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa Haji Akbar merupakan hari wukuf di ‘Arafah tanggal sembilan Dzulhijjah. Sufyan ats-Tsauri juga memiliki pendapat lain. Beliau berpendapat bahwa Haji Akbar dilaksanakan sepanjang hari-hari ibadah haji.

Kita pasti sering mendengar bahwa ibadah haji yang terlaksana pada bulan Dzulhijjah dinamai Haji Akbar (Haji Besar), sedang umrah yang dapat dilaksanakan sepanjang tahun, dinamai Haji Asghar (Haji Kecil). Seperti yang kita ketahui, semua pendapat di atas mengaitkan Haji Akbar dengan pelaksanaan ibadah haji, baik ia diartikan hari wukuf, atau lebaran/penyembelihan kurban maupun hari-hari pelaksanaan ibadah haji. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Haji Akbar terjadi di setiap tahun. ِوَاللهُ اَعْلَمُ بِالصَّوَاب


Referensi:
·         Amalan dan Waktu yang Diberkahi oleh Dr. Nashir bin ‘Abdirrahman bin Muhammad al-Juda’i
·         Tafsir Al-Mishbah vol. 5 oleh Muhammad Quraish Shihab

Sumber gambar : http://blondesearch.ru/img/d6/d68/Prolog.jpg






Continue Reading...

Minggu, 01 Januari 2012

MBOKIR (Mbolang sambil Dzikir) 2





Assalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakutuh

Apa kabar remaser? Apa kabar liburan kalian? Semoga masih tetap diberi semangat dan barokah oleh-Nya. Allahumma aamiin.

Kurang dari satu bulan yang lalu kita telah menghadapi masa evaluasi belajar kita di semester ganjil. Bagaimana? Bagaimana hasil belajar kalian di semester satu ini? Jika baik, maka berusahalah untuk mempertahankan. Jika kurang baik, maka..

Jangan bersedih, oh kawanku
Remas masih ada disini
Semua pasti kan berlalu
Remas kan slalu bersamamu
(edcoustic-jangan bersedih).

Yap, jangan sedih, wahai saudaraku. Masih ada waktu untuk memperbaikinya lagi. Keep HAMASAH :))

Seusai UAS, mbak kita tercinta, mbak Ira Wiranti mengajak kita untuk me-refresh pikiran kita, guna mengembalikan semngat juang kita sebagai Remaja Pecinta Masjid. Lalu bagaimana kelanjutan kisah mbokir kita? Simak terus kisahnya.

Pagi itu, Senin, 26 Desember 2011, masjid Roudlotul Ilmi cukup ramai oleh peserta mbokir. Sebuah bus mini dan angkot hitam-kuning sudah bertengger di depan gerbang SMA Negeri 1 Gresik. Persiapan kami sepertinya sudah cukup matang, namun semua peserta belum berkumpul. Ngaret, mengapa yang satu ini menjadi kebiasaan buruk? Yang awalnya jadwal kita berangkat pukul 07.00, berkat ngaret, setngah jam kemudian barulah kita berangkat.



Tak lupa berdo'a agar di beri keselamatan oleh Allah SWT, bus dan angkot melaju melalui tol Surabaya menuju Pondok Pesantren Al-Fitroh Kedinding. Perjalanan yang lama terasa cepat karena pihak bus memutarkan lagu-lagu Hadrah kebanggan kita.






Satu setengah jam kemudian, tibalah kami di Pondok Pesantren Al-Fitroh, untuk ziarah ke makam Kyai Rori. Suasana makam yang awalnya sepi, menjadi ramai. Rombongan Smansa duduk di tempat dekat makam. Arena pondok tak seramai biasanya, namun beberapa santri masih asik menikmati liburannya di pondok untuk bermain bola.



  Setelah ziarah, kami lanjutkan perjalanan menuju Lamongan, untuk ziarah ke makam Sunan Drajat. Kompleks pemakaman tidak banyak berubah. Jumlah pengemis di kompleks pemakaman-pun tidak berubah. Tetap seperti sediakala. Mereka bergerombol disekitar pedagang uang receh (pedagang yan bekerja untuk menukarkan uang receh). Ketika peziarah mendatangi pedagang uang receh, para pengemis segera mendekat pada peziarah terebut. Entah apakah ini merupakan sebuah startegi yag telah direncanakan sebelumnya atau memang begitulah trik mereka. Yang terpenting adalah syukur kita karena rezeki telah Allah berikan tanpa harus bersusah payah untuk mengemis sekeping receh.


Sebagian dari kemi yang sedang berhalangan, mencoba untuk masuk ke dalam musium Sunan Drajat. Sebuah bedug besar menyambut pendatang musium. Di dalam musium tersebut terdapat barang-barag peninggalan Sunan Drajat. Seperti Al-Qur'an, kain batik, kursi goyang dan lain sebagainya. Usai berziarah kami melanjutkan perjalanan ke Tuban, menuju makam Sunan Bonanng.


  Sepertinya ada yang baru di kompleks makam ini. Ya, satu tahun yang lalu kompleks pemakaman Sunan Bonang belumdi beri ubin di sekitarnya. Namun sekarang ubin coklat muda telah di pasang di sekeliling makam Sunan Bonang. Mungkin karena faktor jumlah peziarah yang kian meningkat.

  Adzan Ashar berkumandang, segera kami transit di Masjid Agung Tuban untuk jama' ta'khir Dzuhur-Ashar. Lokasi masjid tidak jauh dari pemakaman. Hanya butuh jalan kaki beberapa meter saja kita akan sampai di masjid tersebut.  Maha Suci Allah, masjid ini terlihat begitu indah, lebih indah dari satu tahun yang lalu. Bukan karena arsitektur maupun perpaduan warna kulitnya, namun karena cuaca hari ini lebih baik dari satu tahun yang lalu.


  Keindahan dan kemegahan masjid ini menarik banyak perhatian wisatawan. Aksi narsis yang tak terlupakan. Seusai shalat kita berfoto-foto ria di depan masjid cantik ini. Setelah puas, kami kembali ke tempat parkir bus. Sebagian besar menggunakan angkot, beberapa kembali dengan becak.


  Tujuan akhir kita, unknown beach. Pantai yang entah apa namanya, yang jelas pantainya bagus, hehe. Sesuatu terjadi ketika bus menuju ke pantai. Sopir yang awalnya mengatakan bahwa beliau tau lokasi pantai tersebut, ternyata beliau membawa kami ke tempat yang salah. Ya, pantai yang berbeda. Cukup panik, mbak Ira segera menghubungi pemegang jarkom pihak angkot. Pak Supir yang agak bingung di minta untuk kembali ke tempat parkir bus. Mas Najib dan Mas Sulthon di minta untuk menjemput kita di tempat parkir bus. Setelah menunggu cukup lama dan was-was, merekapun tiba. Akhirnya berangkatlah kita menuju uknown beach.

 Luasnya hamparan samudera biru tak berujung
Membuat rasa kagum dalam hati sanubari
Berarak awan putih, dibatas cakrawala
Pendarkan cahaya mentari
Camar yang beterbangan, ditemani sang angin
Meniupkan kesejukan, di sela pepohonan

Suara ombak laut yang memecah di pantai
Berdebur gemuruh menyanyikan lagu damai
Melambai nyiur hijau, di sepanjang tepian
Menjadi saksi setia
Keagungan Ilahi kebesaran tercipta
Dijaga disyukuri, selama-lamanya

Di pantai terasa damai, bebas, lepas, tak terbatas
Memandang mahakarya, yang tak akan ternilai harganya
Terbetik di jiwa, Allah yang mencipta segalanya
Sangat luar biasa Puji syukur pada-Nya
(Shaff-Fix_Pantai Suatu Maha Karya)

  Mahasuci Engkau Ya Rabb. Mempertemukan kami, melukis senyum pada bibir kami, menghadirkan canda tawa di tengah duka lara kami. Rabbi, hanya padaMu lah. Hanya karenaMu. OlehMu. Hanya Kau lah yang mampu menyatukan dan memisahkan kami.

Rabbi, izinkanlah persahabatan kami utuh dan tak terbatas oleh waktu. Allahumma Aamiin.


Continue Reading...

Double Party, Idul Adha 1432 H






Hari itu Senin, 7 November 2011 bertepatan dengan Hari Tasyrik pertama di Tahun 1433 H, lapangan bagian barat SMANSA Gresik ramai oleh suara kambing-kambing dan sapi.  Sementara itu warga SMANSA memenuhi bagian tengah lapangan untuk mengadakan peringatan Hari Raya Idul Adha. Tim Ar-Roudhoh telah siap dengan jas hijaunya beserta lagu-lagu hadrah untuk membuka acara tersebut.



Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar... Laa ilaaha illallahu Allahuakbar... Allahuakbar Wa lillahilhamd... Takbir berkumandang, waktu berasa milik para kambing dan sapi. Rupanya mereka telah siap mengantri giliran untuk di sembelih agar menjadi hewan tunggakan orang mukmin di akhirat kelak.

Setelah acara peringatan Idul Adha berakhir, saatnya para Remaser  menjalankan Double Party-nya.Sate Party dan Rujak Party. Anggota divisi Sosial telah mempersiapkan acara tersebut dengan begitu matang. Sayang, hal terpenting dalam aara tersebut justru terlupakan. Kami lupa mengambil jatah daging kambing untuk remas pada pihak osis. Alhasil, kami hanya mendapatkan daging sapi. Tak ada daging kambing, daging sapi pun jadi. Jadilah kami menggunakan daging sapi sebagai bahan dasar sate.


Semakin siang, suasana di sekitar Masjid Roudlotul 'Ulum semakin ramai. Para remaser bekerkja dengan suka-cita. Sebagian bekerja di depan panggangan ate. Sebagian menyiapkan buah-buahan dan bumbu rujak. Sebagian lagi asik menusukkan dadu daging kambing pada tusuk sate.




Potongan warna-warni buah di atas talam beserta aroma sate terasa begitu menggiurkan. Membuat lidah tak sabar untuk melahapnya. Ba'da dzuhur, kami berebut untuk mendapatkan sate dan rujak buah. Tradisi talaman tidak terlupakan.




Waktu seakan-akan berhenti ketika kebahagiaan menyelimuti persaudaraan kami. Rabbi, ijinkanlah persaudaraan kami utuh tanpa terbatas oleh waktu. Aamiiin
Continue Reading...