Latest Posts

Sabtu, 02 Maret 2013

Sultan Mehmed II Penakluk Konstantinopel dan Vlad Dracula


Membongkar Sebuah Kebohongan
vlad_tepes_orig_edit-x01Kisah hidup Dracula merupakan salah satu contoh bentuk penjajahan sejarah yang begitu nyata yang dilakukan Barat. Kalau film Rambo merupakan suatu fiksi yang kemudian direproduksi agar seolah-olah menjadi nyata oleh Barat, maka Dracula merupakan kebalikannya, tokoh nyata yang direproduksi menjadi fiksi. Bermula dari novel buah karya Bram Stoker yang berjudul Dracula, sosok nyatanya kemudian semakin dikaburkan lewat film-film seperti Dracula’s Daughter (1936), Son of Dracula (1943), Hoorof of Dracula (1958), Nosferatu (1922)-yang dibuat ulang pada tahun 1979-dan film-film sejenis yang terus-menerus diproduksi.
Lantas, siapa sebenarnya Dracula itu?
foto0011Dalam buku berjudul “Dracula, Pembantai Umat Islam Dalam Perang Salib” karya Hyphatia Cneajna ini, sosok Dracula dikupas secara tuntas. Dalam buku ini dipaparkan bahwa Dracula merupakan pangeran Wallachia , keturunan Vlad Dracul. Dalam uraian Hyphatia tersebut sosok Dracula tidak bisa dilepaskan dari menjelang periode akhir Perang Salib. Dracula dilahirkan ketika peperangan antara Kerajaan Turki Ottoman-sebagai wakil Islam-dan Kerajaan Honggaria-sebagai wakil Kristen-semakin memanas. Kedua kerajaan tersebut berusaha saling mengalahkan untuk merebutkan wilayah-wilayah yang bisa dikuasai, baik yang berada di Eropa maupun Asia . Puncak dari peperangan ini adalah jatuhnya Konstantinopel- benteng Kristen-ke dalam penguasaan Kerajaan Turki Ottoman.
Impale_large-x01Dalam babakan Perang Salib di atas Dracula merupakan salah satu panglima pasukan Salib. Dalam peran inilah Dracula banyak melakukan pembantain terhadap umat Islam. Hyphatia memperkirakan jumlah korban kekejaman Dracula mencapai 300.000 ribu umat Islam. Korban-korban tersebut dibunuh dengan berbagai cara-yang cara-cara tersebut bisa dikatakan sangat biadab-yaitu dibakar hidup-hidup, dipaku kepalanya, dan yang paling kejam adalah disula. Penyulaan merupakan cara penyiksaan yang amat kejam, yaitu seseorang ditusuk mulai dari anus dengan kayu sebesar lengan tangan orang dewasa yang ujungnya dilancipkan. Korban yang telah ditusuk kemudian dipancangkan sehingga kayu sula menembus hingga perut, kerongkongan, atau kepala. Sebagai gambaran bagaimana situasi ketika penyulaan berlangsung penulis mengutip pemaparan Hyphatia:
impale_3-x01“Ketika matahari mulai meninggi Dracula memerintahkan penyulaan segera dimulai. Para prajurit melakukan perintah tersebut dengan cekatakan seolah robot yang telah dipogram. Begitu penyulaan dimulai lolong kesakitan dan jerit penderitaan segera memenuhi segala penjuru tempat itu. Mereka, umat Islam yang malang ini sedang menjemput ajal dengan cara yang begitu mengerikan. Mereka tak sempat lagi mengingat kenangan indah dan manis yang pernah mereka alami.”
Tidak hanya orang dewasa saja yang menjadi korban penyulaan, tapi juga bayi. Hyphatia memberikan pemaparan tetang penyulaan terhadap bayi sebagai berikut:
“Bayi-bayi yang disula tak sempat menangis lagi karena mereka langsung sekarat begitu ujung sula menembus perut mungilnya. Tubuh-tubuh para korban itu meregang di kayu sula untuk menjemput ajal.”
Kekejaman seperti yang telah dipaparkan di atas itulah yang selama ini disembunyikan oleh Barat. Menurut Hyphatia hal ini terjadi karena dua sebab. Pertama, pembantaian yang dilakukan Dracula terhadap umat Islam tidak bisa dilepaskan dari Perang Salib. Negara-negara Barat yang pada masa Perang Salib menjadi pendukung utama pasukan Salib tak mau tercoreng wajahnya. Mereka yang getol mengorek-ngorek pembantaian Hilter dan Pol Pot akan enggan membuka borok mereka sendiri. Hal ini sudah menjadi tabiat Barat yang selalu ingin menang sendiri. Kedua, Dracula merupakan pahlawan bagi pasukan Salib. Betapapun kejamnya Dracula maka dia akan selalu dilindungi nama baiknya. Dan, sampai saat ini di Rumania , Dracula masih menjadi pahlawan. Sebagaimana sebagian besar sejarah pahlawan-pahlawan pasti akan diambil sosok superheronya dan dibuang segala kejelekan, kejahatan dan kelemahannya.
Bram Stroker, Pengarang Cerita Dracula
Bram Stroker, Pengarang Cerita Dracula
Guna menutup kedok kekejaman mereka, Barat terus-menerus menyembunyikan siapa sebenarnya Dracula. Seperti yang telah dipaparkan di atas, baik lewat karya fiksi maupun film, mereka berusaha agar jati diri dari sosok Dracula yang sebenarnya tidak terkuak. Dan, harus diakui usaha Barat untuk mengubah sosok Dracula dari fakta menjadi fiksi ini cukup berhasil. Ukuran keberhasilan ini dapat dilihat dari seberapa banyak masyarakat-khususny a umat Islam sendiri-yang mengetahui tentang siapa sebenarnya Dracula. Bila jumlah mereka dihitung bisa dipastikan amatlah sedikit, dan kalaupun mereka mengetahui tentang Dracula bisa dipastikan bahwa penjelasan yang diberikan tidak akan jauh dari penjelasan yang sudah umum selama ini bahwa Dracula merupakan vampir yang haus darah.
Selain membongkar kebohongan yang dilakukan oleh Barat, dalam bukunya Hyphatia juga mengupas makna salib dalam kisah Dracula. Seperti yang telah umum diketahui bahwa penggambaran Dracula yang telah menjadi fiksi tidak bisa dilepaskan dari dua benda, bawang putih dan salib. Konon kabarnya hanya dengan kedua benda tersebut Dracula akan takut dan bisa dikalahkan. Menurut Hyphatia pengunaan simbol salib merupakan cara Barat untuk menghapus pahlawan dari musuh mereka-pahlawan dari pihak Islam-dan sekaligus untuk menunjukkan superioritas mereka.
Sultan Mehmed II (Wikipedia)
Sultan Mehmed II (Wikipedia)
Siapa pahlawan yang berusaha dihapuskan oleh Barat tersebut? Tidak lain Sultan Mahmud II (di Barat dikenal sebagai Sultan Mehmed II). Sang Sultan merupakan penakluk Konstantinopel yang sekaligus penakluk Dracula. Ialah yang telah mengalahkan dan memenggal kepala Dracula di tepi Danua Snagov. Namun kenyataan ini berusaha dimungkiri oleh Barat. Mereka berusaha agar merekalah yang bisa mengalahkan Dracula. Maka diciptakanlah sebuah fiksi bahwa Dracula hanya bisa dikalahkan oleh salib. Tujuan dari semua ini selain hendak mengaburkan peranan Sultan Mahmud II juga sekaligus untuk menunjukkan bahwa merekalah yang paling superior, yang bisa mengalahkan Dracula si Haus Darah. Dan, sekali lagi usaha Barat ini bisa dikatakan berhasil.
Utusan Sultan Mehmed II di Kastil Vlad Dracul (Wikipedia)
Utusan Sultan Mehmed II di Kastil Vlad Dracul (Wikipedia)
Selain yang telah dipaparkan di atas, buku “Dracula, Pembantai Umat Islam Dalam Perang Salib” karya Hyphatia Cneajna ini, juga memuat hal-hal yang selama tersembunyi sehingga belum banyak diketahui oleh masyarakat secara luas. Misalnya tentang kuburan Dracula yang sampai saat ini belum terungkap dengan jelas, keturunan Dracula, macam-macam penyiksaan Dracula dan sepak terjang Dracula yang lainnya.
Sebagai penutup tulisan ini penulis ingin menarik suatu kesimpulan bahwa suatu penjajahan sejarah tidak kalah berbahayanya dengan bentuk penjajahan yang lain-politik, ekonomi, budaya, dll. Penjajahan sejarah ini dilakukan secara halus dan sistematis, yang apabila tidak jeli maka kita akan terperangkap di dalamnya. Oleh karena itu, sikap kritis terhadap sejarah merupakan hal yang amat dibutuhkan agar kita tidak terjerat dalam penjajahan sejarah. Sekiranya buku karya Hyphatia ini-walaupun masih merupakan langkah awal-bisa dijadikan pengingat agar kita selalu kritis terhadap sejarah karena ternyata penjajahan sejarah itu begitu nyata ada di depan kita. Wikipedia pun mengkonfirmasikan eksistensi historis Dracula yang membantai ribuan Muslim dengan cara menusuk/mensula (impale)


Continue Reading...

10 Kesalahpahaman Tentang Islam

1.Islamic Terrorism
Misconception: Islam adalah teroris

Ini jauh kesalahpahaman Islam terbesar, tidak adil yang diberikan oleh masyarakat dan stereotyping gambar yang memberikan media. Has anyone else noticed cara tertentu ketika sekelompok orang menyerang orang lain kelompok ini diberi label sebagai 'hate crime', tetapi ketika seorang Muslim terbuka untuk siapa saja api cepat itu dianggap sebagai 'terorisme'. Banyak dictators politik dan para pejabat atau kelompok-kelompok ekstremis menggunakan nama Islam sebagai strategi untuk mengumpulkan pengikutnya dan perhatian ketika banyak dari mereka menentang praktek-praktek yang benar dasar Islam. Media juga digambarkan Islam sebagai agama atau sebuah klub di mana anda jika anda bergabung menjadi teroris dan yang kini bagian dari agenda. Namun di seluruh dunia praktek orang Islam di formulir yang benar dan menggunakannya sebagai cara hidup. Ada banyak ayat dalam Quran yang bertentangan dengan ide terorisme. Beberapa ayat-ayat termasuk "berperang di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi tidak melampaui batas Tuhan tidak suka batas." Ini berarti pada dasarnya tidak berperang kecuali dalam pembelaan diri dan bahkan dalam hal tersebut tidak pergi jauh pertahanan. Ayat lain menyatakan "jika mereka mencari perdamaian, maka anda mencari perdamaian," yang berarti tidak menyerang orang tanpa alasan atau bersalah membunuh orang. Tak ada dalam Islam, apakah ada di Quran atau ajaran Muhammad, yang mendorong pembunuhan orang bersalah. Digambarkan di atas adalah sebuah konferensi yang melawan Terorisme Islam.

2.By the sword
Kesalahpahaman: Islam telah menyebar oleh pedang

Sejarawan De Lacey O'Leary menyatakan "Sejarah membuatnya jelas bahwa legenda yang fanatik Islam melalui sweeping dan memaksa dunia Islam pada titik di pedang setelah menaklukkan ras adalah salah satu yang paling fantastically mustahil sejarahwan mitos yang pernah diulang. "Tidak ada dalam catatan sejarah menunjukkan bahwa orang yang dipaksa oleh pedang untuk masuk Islam. Ketika Islam menyebar melalui negara-negara mereka akan menyiapkan pribadi gereja dan sinagog untuk non muslim mereka dan pemerintahan yang baik karena mereka telah menerima perlakuan mereka sendiri akan dikonversi. Jika satu menganggap kecil jumlah umat Islam yang pada awalnya penyebaran Islam ke barat semua jalan dari Spanyol dan Maroko dan ke timur dari India dan Cina yang akan menyadari bahwa sebuah kelompok kecil dari orang-orang yang tidak bisa memaksa orang lain untuk menjadi anggota suatu agama terhadap mereka akan. Ianya juga menarik untuk dicatat bahwa ketika Mongol menyerang dan menaklukkan besar bagian dari kerajaan Islam, bukan merusak agama mereka diadopsi it!

3.Women's right
Kesalahpahaman: Perempuan tidak memiliki hak

Gambar seorang perempuan yang memakai kerudung dari kepala ke jari kaki, seorang perempuan yang mendapat keadilan yang tidak adil atau seorang perempuan yang tidak diperbolehkan untuk drive yang terlalu akrab gagasan ketika datang ke perawatan perempuan dalam Islam. Dan sementara ada negara-negara Muslim di dunia yang melaksanakan banyak rulings tajam terhadap perempuan, ini tidak boleh digambarkan sebagai hukum Islam. Banyak dari negara-negara tersebut memiliki perbedaan budaya yang bertentangan dengan ajaran Islam. Perlu dicatat bahwa selama Arab pra-Islam perempuan hanya digunakan untuk persundalan dan tidak memiliki kemerdekaan. Kelahiran anak perempuan dalam keluarga dianggap menghinakan dan praktik anak perempuan yang tak terkendalikan. Ketika Islam datang ke ini, ayat-ayat dalam Quran dikutuk praktik anak perempuan. Islam banyak memberi kembali ke hak asasi manusia perempuan dan Muhammad (s) bahkan melaporkan bahwa "perempuan adalah memperdua kembar laki-laki." A Muslim perempuan diperbolehkan untuk menolak dan menerima pelamar untuk menikah dan mempunyai hak untuk mencari perceraian. Tidak ada apa-apa dalam Islam yang melarang seorang muslim wanita keluar dari rumahnya dan boleh berkendara. Juga dalam hal pendidikan, seorang wanita wajib untuk mencari pengetahuan dan dianggap sebagai dosa jika ia menolak.

4.Muslim Savages
Kesalahpahaman: Islam adalah kejam dan savages selama perang

Cukup Sebaliknya, bila perlu untuk melakukan perang ada aturan bahwa setiap sepuluh tentara Muslim harus mematuhi:

1. Jangan melakukan pengkhianatan
2. Tidak menyimpang dari jalan
3. Jangan memuntungkan mayat
4. Jangan membunuh anak-anak
5. Jangan membunuh perempuan
6. Jangan membunuh laki-laki berusia
7. Tidak membahayakan atau membakar pohon-pohon
8. Jangan menghancurkan bangunan
9. Jangan memusnahkan musuh dari kawanan, kecuali jika Anda menggunakannya untuk makanan
10. Bila Anda melewati orang-orang yang dikhususkan untuk kehidupan monastik layanan biarkan mereka sendirian

Selama crusades Salahuddin ketika ia dikalahkan franks yang terhormat yang dikalahkan Frankish tentara dan disertakan dengan makanan mereka dan selama tiga usaha ketika Saladin dari musuh raja Richard jatuh sakit, Saladin dikirim dia hadiah buah-buahan dan kuda.

5.Child bride
Kesalahpahaman: Nabi Muhammad adalah pedophile

Nabi Muhammad saw menikahi gadis berusia 9 tahun tidak ada buktinya,Walaupun seandainya memang dia menikahi seorang gadis berusia sembilan tahun,itu tidak merupakan pedophilia. Secara historis, usia di mana seorang gadis dianggap siap untuk menikah telah puberty. Ini merupakan kasus di Biblika kali, dan sekarang masih digunakan untuk menentukan usia perkawinan di berbagai belahan dunia. Ini merupakan bagian dari norma dan bukan merupakan sesuatu yang invented Islam. The girl ia telah menikah untuk mencapai masa pubertas 3 tahun sebelum menikah. Hal ini setelah mencapai usia masa remaja bahwa seseorang, laki-laki atau perempuan, menjadi hukum yang bertanggung jawab untuk tindakan mereka di bawah hukum Islam. Pada tahap ini, mereka diizinkan untuk membuat keputusan mereka sendiri dan bertanggung diadakan untuk mereka. Ia juga harus menyebutkan bahwa dalam Islam, adalah haram untuk memaksa seseorang untuk menikahi seseorang yang mereka tidak ingin menikah. Tidak ada indikasi bahwa pada waktu itu dikritik perkawinan ini disebabkan oleh gadis muda usia. Sebaliknya, perkawinan itu didorong oleh gadis yang dari keluarga dan telah disambut oleh masyarakat luas.

6.Islamic Jihad
Kesalahpahaman: Jihad berarti berjuang demi Tuhan

Arab yang benar arti kata jihad adalah perjuangan. Namun dalam Islam ini sering digunakan untuk menjelaskan berjuang di jalan Tuhan. Ada banyak bentuk jihad tetapi yang paling penting adalah Jihad al-nafs (jihad melawan diri orang), jihad bil-lisan (jihad dengan menjadi vokal), jihad bil yad (jihad dengan menggunakan tindakan), dan Jihad bis saif (jihad dengan menggunakan pedang). Setiap jihad diranking berbeda dan dilaporkan bahwa Muhammad kembali dari peperangan dan berkata: "Kami telah kembali dari jihad yang lebih rendah (yang terjadi dalam peperangan) ke jihad yang lebih besar (perjuangan jiwa)." Ini berarti bahwa seorang Muslim berjuang melawan dirinya dan jiwa adalah lebih penting daripada jihad yang terjadi dalam perang. Kesalahpahaman lain adalah bahwa hanya bila orang meninggal dalam perang tidak menjadi orang yang syahid. Hal ini, bagaimanapun, palsu dan ia percaya bahwa setiap orang melakukan sesuatu untuk kepentingan tuhan dan menjadi syahid terbunuh. Seseorang yang meninggal saat melaksanakan haji di Mekkah, seorang wanita yang meninggal saat melahirkan, atau bahkan seseorang yang mati dalam mobil crash ketika ia pada jalan ke masjid semua dianggap martir.

7.Religious intolerance
Kesalahpahaman:Islam adalah tiada Toleransi terhadap agama lain

"Bunuhlah yang infidel 'adalah frasa banyak orang percaya adalah ideologi yang memiliki umat Islam terhadap non muslim. Ini, namun, bukanlah benar memerankan Islam hukum. Islam selalu menghormati dan memberikan kebebasan agama bagi semua agama. Dalam Quran itu mengatakan "Allah tidak melarang kamu, dalam hal orang-orang yang memerangi kamu bukan untuk agama dan mengusir kamu dari rumahmu, dari menangani hormat dan adil dengan mereka, sebab Tuhan mengasihi orang-orang yang adil." Ada sejarah banyak contoh toleransi muslim terhadap agama lain. Salah satu contoh adalah ketika kalif Umar adalah penguasa Yerusalem dari 634-644 AD. Dia memberikan kebebasan kepada semua agama dan masyarakat mengatakan kepada penduduk kota yang aman dan tempat-tempat ibadah mereka tidak akan diambil dari mereka. Dia juga menyiapkan pengadilan yang ditujukan kepada non Muslim minoritas. Setiap kali dia akan mengunjungi tempat suci ia akan meminta kepala keluarga Kristen Sophronius (digambarkan di atas) untuk menemani dia.

8.Children's Right
Kesalahpahaman: Anak-anak tidak memiliki hak

Anak-anak, menurut hukum Islam, ada berbagai hak. Salah satunya adalah hak untuk benar membawa atas, dibangkitkan, dan pendidikan. Islam mendorong anak-anak untuk dibawa sampai dengan baik karena ia adalah tanggung jawab seorang dewasa untuk meningkatkan anaknya untuk menjadi moral dan etika dewasa. Anak-anak juga harus diperlakukan sama. Ketika memberikan hadiah keuangan mereka semua harus menjadi sama dan tidak ada pilihan di antara mereka. Bahkan anak-anak yang sedang diijinkan untuk mengambil dari kekayaan orang tua mereka untuk mempertahankan diri jika orang tua mereka menolak untuk memberikan dana untuk hidup benar. Seorang anak juga tidak diperbolehkan untuk mendapatkan hit di wajah atau terkena sesuatu yang lebih besar dari sebuah pensil.

9.Muslims and Yesus
Kesalahpahaman: Muslim Hate Yesus

Ada banyak kesamaan antara sejarah referensi dari Kekristianan dan Islam. Banyak orang kagum untuk mengetahui bahwa menurut kepercayaan Muslim, Yesus adalah salah satu yang paling besar utusan Allah. Satu tidak dapat seorang Muslim tanpa percaya pada dara kelahiran dan banyak mukjizat Yesus Kristus. Yesus juga disebut dalam banyak ayat-ayat Quran dan lebih sering digunakan sebagai contoh yang baik dan kebaikan karakter. Namun, perbedaan antara Kristen dan Islam adalah bahwa umat Islam tidak percaya bahwa Yesus adalah Tuhan. Digambarkan di atas adalah Yesus dalam Islam memerankan penghakiman yang terakhir.

10.Muslims are arab
Kesalahpahaman: Semua umat Islam adalah Arab

The Common gambar seorang Muslim adalah orang Arab memakai serban gelap dengan janggut panjang. Namun gambar ini adalah bagian dari umat Islam yang minoritas. Arab membuat hanya 15% dari populasi dunia Muslim. Sesungguhnya Timur Tengah datang di Asia Timur dengan ketiga datang pada pertama (69%) dan Afrika (27%) pada kedatangan kedua. Common kesalahpahaman lain adalah bahwa semua Arab adalah Islam. Sementara mayoritas Arab adalah Islam (75%), ada banyak agama lain yang termasuk amalan Arab Kristen dan Judaisme
Continue Reading...

Minggu, 18 November 2012

Mendahulukan Teman


Al-Waqidi menuturkan bahwa ia mempunyai dua orang teman, satu di antara keduanya adalah keturunan Hasyim. Mereka telah menjadi ibarat satu jiwa. Suatu saat kesulitan hidup dialami oleh keluarga Al-Waqidi dan hari raya Idul Fitri tiba. Maka yang muncul dalam pikirannya adalah anak-anaknya yang masih kecil karena melihat anak-anak tetangga memakai pakaian baru dan tampak gembira. Sedang al-Waqidi sendiri dan istrinya dapat menjalani hidup dalam kesulitan meskipun dalam suasana hari raya.

Dalam keadaan seperti itu, terbelik dalam hatinya ingin menulis surat kepada sahabat karibnya yang keturunan Hasyim itu. Ia pun kemudian menulis surat dengan menceritakan keadaan yang sedang ia alami. Selang beberapa waktu kemudian, sahabatnya itu mengirim bungkusan berisi uang seribu dirham. Namun tidak lama kemudian sahabat karib satunya lagi ternyata datang dan mengeluhkan kesulitan hidup yang sama kepada al-Waqidi. Oleh sebab itu, karena tidak ingin sahabatnya mengalami kesusahan, uang itu kemudian diberikan kepadanya saat itu juga. Al-Waqidi kemudian berdiam dir dalam masjid karena malu dengan istrinya. Setelah pulang ke rumah, ia menceritakan perihal uang dari awal hingga akhir. Istrinya yang dikira akan kecewa dengan sikapnya itu ternyata sebaliknya justru memuji atas keluhuran jiwanya itu.

Dalam keadaan seperti itu, sahabat dekatnya yang keturunan Hasyim itu datang lagi dengan membawa bungkusan persis seperti yang diberikan kepada Al-Waqidi sebelumnya, seraya berkata: “Ketahuilah bahwa ketika engkau menyampaikan kesulitan hidup kepadaku, maka kemudian aku berikan kepadamu uang ini. Sementara hanya inilah uang yang aku miliki. Karena aku ingin berbagi rasa dengan sahabat kita maka aku menceritakan keadaan hidup yang sedang aku alami. Tidak lama kemudian sahabat kita itu mengirim bungkusan uang ini tanpa memberi tahu darimana uang ini ia dapatkan!” Kemudian uang itu dibagi untuk tiga orang bersahabat karib itu.

Ketika Khalifah Al-Ma’mun mendengar peristiwa itu Al-Waqidi dipanggil ke istananya. Karena tidak mengetahui alasan mengapa ia dipanggil, hati Al-Waqidi dipenuhi rasa penasaran yang bercampur takut selama dalam perjalanan menuju ke istana Khalifah sehingga ia tidak merasakan jarak perjalanan. Setelah meminta agar Al-WAqidi menceritakan kisahnya, Khalifah Al-Ma’mun memberi perintah agar diberi hadiah tujuh ribu dinar, masing-masing dari tiga orang bersahabat itu dua ribu dinar sementara untuk istri Al-Waqidi seribu dinar.

Sumber :
1001 Kisah Teladan oleh Hani Al-Hajj
Continue Reading...

Minggu, 11 November 2012

Seorang Perempuan Kata-katanya Al-Qur’an


Abdullah bin al-Mubarak menuturkan bahwa ketika pergi haji ke Baitulah al-Haram dan berziarah ke masjid Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam di Madinah, ia berjumpa dengan seorang perempuan tua memakai kerudung wol.

Ibnu Mubarak berkata, “Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.”

Perempuan tua itu menjawab, “Salam sejahtera, sebagai ucapan selamat dari Rabb yang Maha Penyanyang.” (QS. Yaasin : 58)

Ibnu Mubarak berkata, “Semoga Allah merahmati engkau. Apa yang engkau lakukan di tempat ini?”

Perempuan tua itu menjawab, “Barang siapa yang Allah sesatkan maka tidak ada baginya petunjuk jalan.” (QS. Al-A’raf : 186). Mendengar jawabannya, Ibnu Mubarak paham bahwa ia tersesat di jalan. Lalu ia pun bertanya, “Kemana engkau hendak pergi?”

Perempuan tua itu menjawab, “Maha Suci Allah yang telah mengisra’kan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa.” (QS. Al-Isra’ : 1). Ia pun tahu bahwa perempuan ini telah selesai mengerjakan haji dan ingin kembali ke Baitul Maqdis (Palestina).

Ibnu Mubarak berkata, “Sejak berapa lama engkau di tempat ini?”

Perempuan tua itu menjawab, “Tiga malam berturut-turut.” (QS. Maryam : 10)

Ibnu Mubarak berkata, “Aku tidak melihat makanan bersamamu, lalu engkau makan apa?”

Perempuan tua itu menjawab, “Allah yang memberiku makan dan minum.” (QS. Asy-Syu’ara : 79)

Ibnu Mubarak berkata, “Sekarang bukan bulan Ramadhan!”

Perempuan tua itu menjawab, “Dan barang siapa mengerjakan kebajikan dengan kerelaan hati, maka, sesungguhnya Allah Maha Memberi pahala dan Maha mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 158)

Ibnu Mubarak berkata, “Kita diperbolehkan tidak puasa ketika dalam perjalanan.”

Perempuan tua itu menjawab, “Berpuasa itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 184)

Ibnu Mubarak berkata, “Mana air wudhumu?”

Perempuan tua itu menjawab, “Lalu jika tidak menemukan air maka bertayamumlah dengan debu yang baik.” (QS. An-Nisa : 43)

Ibnu Mubarak berkata, “Mengapa engkau tidak berbicara seperti bicaraku?”

Perempuan tua itu menjawab, “Tidakkah ada satu ucapan pun yang diucapkan kecuali ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf : 18)

Ibnu Mubarak berkata, “Manusia apa sebenarnya engkau ini?”

Perempuan tua itu menjawab, “Janganlah mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya itu akan dimintai tanggung jawab.” (QS. Al-Isra’ : 36)

Ibnu Mubarak berkata, “Aku telah melakukan kesalahan, maka berilah aku jalan keluar.”

Perempuan tua itu berkata, “Tidak perlu penyesalan bagi kalian hari ini, Allah pasti mengampuni kalian.” (QS. Yusuf : 92)

Ibnu Mubarak berkata, “Maukah engkau mengendarai untaku ini, agar dapat menyusul rombonganmu?”

Perempuan tua itu menjawab, “Kebaikan apa pun yang engkau lakukan, Allah pasti mengetahuinya.” (QS. Al-Baqarah : 197)

Ibnu Mubarak berkata, “Maka aku pun mendudukkan untaku.”

Perempuan tua itu berkata. “Katakan kepada orang-orang beriman, hendaknya mereka menundukkan pandangan mereka.” (QS. An-Nur : 30). Ibnu Mubarak pun lantas memalingkan pendangannya dari perempuan tua itu, lalu berkata, “Sekarang naiklah .” Namun ketika hendak naik, unta itu tiba-tiba bangun lalu lari dan baju perempuan tua itu sobek.

Perempuan tua itu berkata, “Musibah apa pun yang menimpa kalian, itu adalah akibat dari perbuatan tangan kalian.” (QS. Asy-Syu’ara : 30)

Ibnu Mubarak berkata, “Bersabarlah, hingga aku dapat menjinakkan dan mengikat unta itu.”

Perempuan tua itu berkata, “Lalu Kami beri pengertian tentang hukum kepada Sulaiman.” (QS. Al-Anbiya’ : 79). Setelah dapat dikuasai lalu Ibnu Mubarak mengikat unta itu.

Ibnu Mubarak berkata, “Sekarang, naiklah.” Perempuan tua itu kemudian naik, dan berkata, “Maha suci Allah yang telah menundukkan semua ini untuk kami, padahal sebelumnya kami tidak mampu menguasainya dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami.” (QS. Az-Zuhruf : 13 – 14).

Lalu, Ibnu Mubarak pun memegang kendali untuanya dan memacu larinya sambil berteriak keras.

Perempuan tua itu berkata, “Dan sederhanakanlah jalanmu dan lunakkanlah suaramu, sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai.” (QS. Luqman : 19)

Ibnu Mubarak pun kemudian berjalan pelan-pelan sambil mendendangkan bait-bait syair.

Perempuan tua itu berkata, “Maka bacalah apa yang mudah bagimu dari Al-Qur’an.” (QS. Al-Muzammil : 20)
Ibnu Mubarak berkata, “Engkau telah dianugerahi kebaikan yang sangat banyak.”

Perempuan tua itu berkata, “Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran dari firman Allah.” (QS. Al-Baqarah : 269)

Ibnu Mubarak berkata, “Apakah engkau mempunyai suami?”

Perempuan tua itu menjawab, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah menanyakan sesuatu yang jika diterangkan kepada kalian niscaya akan menyusahkan kalian.” (QS. Al-Maidah : 101)

Ibnu Mubarak lalu diam, tidak mengajaknya bicara lagi hingga rombongannya terlihat dan ia dapat menyusulnya.

Ibnu Mubarak berkata, “Itukah kafilahmu? Siapa saudaramu di dalam kafilah itu?”

Perempuan tua itu menjawab, “Harta benda dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia.” (QS. Al-Kahfi : 46). Ibnu Mubarak mengerti bahwa perempuan tua ini mempunyai anak-anak.

Ibnu Mubarak berkata, “Bagaimana keadaan mereka pada waktu ibadah haji?”

Perempuan tua menjawab, “Dan Dia ciptakan tanda-tanda petunjuk jalan dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl : 16). Ibnu Mubarak mengerti jawabannya itu bahwa mereka menjadi penunjuk jalan dengan melihat kubah-kubah, bangunan-bangunan dan letak bintang.”

Ibnu Mubarak berkata, “Siapa yang ada di sana itu?”

Perempuan tua itu menjawab, “Dan Allah menjadikan Ibrahim kesayangan-Nya.” (QS. An-Nisa’ : 125) “Dan Allah berbicara kepada Musa secara langsung.” (QS. An-Nisa’ : 164) “Wahai Yahya, ambillah al-Kitab itu dengan sungguh-sungguh.” (QS. Maryam : 12) Lalu Ibnu Mubarak memanggil ketiga nama itu.

Ibnu Mubarak, “Hai Ibrahim, hai Musa, hai Yahya.” Segeralah para pemuda itu datang menyambut panggilannya, lalu mereka duduk berdekatan.

Perempuan tua itu berkata, “Maka suruhlah salah seorang diantara kalian pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini dan hendaklah ia lihat, manakah makanan yang lebih baik, lalu hendaklah ia membawa makanan itu untuk kalian.” (QS. Al-Kahfi : 19). Kemudian salah seorang diantara mereka pergi, lalu kembali dengan membawa makanan untuk dihidangkan kepadaku. Perempuan tua itu mempersilahkanku untuk makan sambil berkata, “Makanlah dan minumlah dengan nikmat sebagai balasan atas yang telah kalian kerjakan pada hari-hari yang telah lalu.” (QS. Al-Haqqah : 24). Setelah makan, Ibnu Mubarak memandang muka ketiga pemuda itu, karena rasa penasaran yang semakin menguat.

Dia berkata, “Aku ingin tahu tentang ibu kalian ini.” Mereka menjawab bahwa sejak empat puluh tahun yang lalu ia tidak berbicara selain dengan ayat-ayat al-Qur’an karena khawatir salah bicara.

Ibnu Mubarak berkata, “Itulah karunia Allah yang diberikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki dan Allah Mahaluas lagi Maha mengetahui.” (QS. Al-Maidah : 54)

Sumber :
1001 Kisah Teladan oleh Hani Al-Hajj
Continue Reading...

Minggu, 04 November 2012

Islamnya Abu Dzar Al-Ghifari


Abu Dzar Al-Ghifari ra. termasuk salah seorang di antara para sahabat Rasulullah saw. yang terkenal. Selanjutnya, ia menjadi orang yang benar-benar zahid dan termasuk dalam golongan para alim ulama.

Ali ra. berkata, “Abu Dzar telah memiliki ilmu yang tidak dimiliki oleh orang lain, dan ia telah menjaga ilmunya dengan baik.”

Ketika ia baru saja mendengar kabar akan kenabian Rasulullah saw., maka ia telah mengirimkan saudaranya ke Makkah, untuk memastikan adanya berita tersebut. Ia memerintahkan saudaranya bahwa apabila ada orang yang mengaku, “Telah datang wahyu kepadaku, dan telah datang kabar dari langit,” maka ia supaya mencari kabar mengenai dirinya dan supaya mendengarkan baik-baik kata-katanya.

Saudaranya pun pergi ke Makkah, dan ia mulai menyelidiki keadaan di sana. Setelah selesai, ia pun kembali, dan mengabarkan kepada saudaranya, “Saya telah melihat bahwa ia memiliki adat yang bagus, akhlak yang terpuji, dan saya telah mendengarkan kata-katanya yang begitu indah, tetapi bukan kata-kata syair dan juga bukan kata-kata ahli sihir.”

Abu Dzar Al-Ghifari tidak puas atas laporan saudaranya tersebut. Maka ia menyiapkan barang-barangnya dan memutuskan untuk pergi sendiri ke Makkah. Setibanya di sana, ia langsung menuju Masjidil Haram. Ia belum mengenal wajah Nabi saw. Untuk bertanya pun, ia menganggap kurang baik bagi kemashlahatan dirinya. Sehingga sampai tiba waktu sore, ia masih dalam keadaan yang demikian.

Pada sore harinya, Ali ra. melihat seorang musafir yang terlantar, seorang musafir miskin dan tidak tahu apa pun. Maka ia merasa tersentuh untuk membantu dan memenuhi hajat musafir tersebut. Kemudian Ali ra. mengajak ke rumahnya. Ia melayani keperluan tamunya, tetapi Ali ra. tidak sedikit pun bertanya mengenai siapakah dia dan apakah maksud kedatangannya. Sementara musafir tersebut juga tidak mengemukakan keperluannya kepada tuan rumah.

Pada pagi harinya, ia datang lagi ke masjid. Ia mencari berita sendiri dan tidak berani bertanya kepada orang lain. Kemungkinan yang menjadi penyebabnya adalah karena sikap orang-orang kafir yang memusuhi Rasulullah saw. sudah menjadi berita yang masyhur. Beliau dan orang-orang yang berani menemani beliau akan mendapat gangguan dari mereka. Ia berpikir bahwa karena ia belum mengetahui keadaan yang sesungguhnya, maka ia harus bersikap waspada sehingga gangguan yang buruk tidak akan menimpanya.

Sore harinya pada hari yang kedua, Ali ra. berpikir bahwa kedatangan musafir yang terlantar ini pasti mempunyai maksud dan tujuan, tetapi ia belum mengutarakannya. Maka ia mengajak tamunya tersebut untuk menginap kembali di rumahnya. Malam telah berlalu, tetapi Ali ra. belum memperoleh kesempatan untuk bertanya kepadanya.

Pada hari yang ketiga keadaannya masih sama dengan hari-hari sebelumnya. Akhirnya Ali ra. pun memberanikan diri untuk bertanya kepada tamunya, “Apakah maksud dan tujuanmu datang ke sini?” Kemudian Abu Dzar meminta supaya Ali ra. berjanji akan menjawab setiap pertanyaannya dengan jujur. Setelah itu barulah ia bersedia mengemukakan maksud tujuan kedatangannya.

Ali karomallahi wajhahu, setelah mendengarkan penuturan tamunya tersebut berkata, “Sungguh, engkau benar-benar seorang yang diutus Allah, besok pagi jika aku berangkat, ikutlah denganku, akan aku antarkan engkau kepada beliau. Tetapi orang-orang yang menentangnya sangat banyak, jika ketahuan, sangat membahayakan. Oleh karena itu agar kepergianku tidak dicurigai, jika ada bahaya yang mengancam, aku akan berpisah agak jauh darimu, dan engkau pura-pura buang air kecil atau memperbaiki sepatumu, sehingga perjalanan kita tidak diketahui orang.”

Esok paginya, dengan sembunyi-sembunyi Ali ra. bersama musafir tersebut telah sampai ke tempat kediaman Rasulullah saw. Kemudian mereka berbincang-bincang dengan Rasulullah saw. Pada saat itulah Abu Dzar ra. masuk Islam. Setelah ia memeluk agama Islam, Rasulullah saw. sangat mengkhawatirkan keselamatan Abu Dzar Al-Ghifari sehingga beliau melaran Abu Dzar ra. supaya tidak menampakkan keislamannya di hadapan umum. Sabda Rasulullah saw. kepadanya, “Pulanglah kepada kaummu dengan sembunyi-sembunyi, jika kami sudah menang datanglah lagi ke sini.” Kemudian Abu Dzar berkata kepada Rasulullah saw., “Wahai Rasulullah, demi Dzat yang nyawaku berada di tangan-Nya, sungguh aku bersumpah akan mengikrarkan kalimat tauhid ini di tengah-tengah mereka yang tidak beriman.” Setelah berkata demikian, langsung saja ia menuju ke Masjidil Haram. Dengan suara yang nyaring serta lantang ia mengucapkan kalimat tauhid.

Begitu ia selesai mengikrarkan kalimat tauhid tersebut, orang-orang pun berdatangan memukulinya dari empat penjuru sehingga karena luka-luka yang memenuhi tubuhnya, hampir saja ia menemui ajalnya. Untunglah paman Rasulullah saw., Abbas, yang saat itu masih belum masuk Islam, berusahaa menghalangi siksaan kaumnya kepada Abu Dzar, seraya berteriak kepada orang-orang, “Kalian sungguh kejam, orang ini dari suku Ghifar. Kabilah ini tinggal di antara jalan yang menuju ke Syam. Jika ia mati, maka jalan menuju dan pulang dari Syam akan tertutup bagi kita.”

Dengan kata-kata tersebut timbullah kesadaran pada diri orang-orang yang memukulinya. Memang, segala kebutuhan mereka datan dari Syam, dan jika sampai tertutup, maka itu merupakan suatu musibah bagi mereka. Akhirnya mereka pun meninggalkan Abu Dzar Al-Ghiffari.
Pada hari kedua, Abu Dzar telah berbuat hal yang sama. Ia pergi ke Masjidil Haram, mengucapkan kalimat tauhid dengan suara yang keras di hadapan orang banyak. Dan orang-orang pun tidak menyukai kalimat tersebut, sehingga mereka kembali memukulinya. Pada hari kedua juga Abbas, mengingatkan kaumnya lagi bahwa jika sampai ia tewas, maka perjalanan dagang ke Syam akan tertutup. Lalu mereka pun meninggalkannya kembali.

Sumber:
Himpunan Fadhilah Amal oleh Maulana Zakariyya Al-Kandahlawi
Continue Reading...

Aku Datang Untuk Mencurinya Tetapi Ia Justru Mencuriku


“Dan seandainya Allah memberi petunjuk kepada seseorang dengan sebab engkau, maka hal itu lebih baik bagimu daripada apa yang dijangkau matahari sejak terbit hingga terbenam.” (HR. Bukhari)


Disebutkan bahwa seorang pencuri memanjat tembok rumah Malik bin Dinar, lalu masuk menyelinap, namun ia tidak menemukan apa pun yang dapat ia curi. Sementara tuan rumah sedang khusyu’ melakukan shalat memperpendek shalatnya karena merasa ada sesuatu yang menganggu shalatnya. Kemudian Malik bin Dinar menoleh ke arah pencuri itu seraya mengucapkan salam kepadanya dan berkata, “Semoga Allah memberimu taubat, engkau memasuki rumahku, tetapi tidak menemukan sesuatu yang dapat engkau ambil. Namun aku tidak akan membiarkan engkau keluar sia-sia.

Malik bin Dinar kemudian membawakan bejana penuh dengan air dan berkata kepadanya, “Ambillah air wudlu, lalu lakukan shalat dua rakaat, nanti engkau keluar dengan membawa sesuatu yang lebih baik dari pada apa yang engkau cari dengan datang ke sini!” Mendengar ketulusan Malik bin Dinar, pencuri itu terharu lalu menjawab, “Baik, aku jadi tersanjung!”

Pencuri itu kemudian mengambil wudhul lalu melakukan shalat dua rakaat. Ia merasakan getaran jiwa luar biasa, lalu meminta Malik bin Dinar apabila tidak keberatan untuk mengizinkannya menambah shalat dua rakaat lagi.

Betapa nasihat Malik bin Dinar telah mengubah niat pencuri ini dalam waktu sekejap! Tentu, permintaannya itu justru menambah ketulusan Malik bin Dinar. Lalu pencuri itu terus melakukan shalat hingga pagi hari.

“Sekarang, pulanglah baik-baik,” kata Malik bin Dinar. Ia menjawab, “Tuanku, apakah engkau berkenan jika aku tinggal di sini bersamamu karena aku telah berniat puasa hari ini?” Malik bin Dinar menjawab, “Tentu, aku senang, tinggallah selama engkau mau.” Pencuri itu pun lalu tinggal di rumah Malik bin Dinar selama berhari-hari dengan melakukan puasa dan bangun malam untuk shalat. Ketika hendak pulang pencuri itu berkata, “Wahai Malik bin Dinar, aku telah berniat melakukan taubat.” Malik bin Dinar menjawab, “Itu di tangan Allah Swt.” Ia kemudian benar-benar bertaubat.

Dalam perjalanan pulang ia bertemu dengan salah seorang pencuri yang ia kenal baik, lalu ditanya, “Aku pikir engkau memperoleh harta karun!” Ia menjawab, “Saudaraku, aku bertemu dengan Malik bin Dinar ketika aku masuk menyelinap hendak mencurinya tetapi ia justru mencuriku. Kini aku telah bertaubat kepada Allah Swt. Oleh sebab itu mulai sekarang aku akan lebih banyak di rumah sehingga mendapatkan apa yang didapat para kekasih Allah.

Sumber :
1001 Kisah Teladan oleh Hani Al-Hajj
Continue Reading...